EnglishFrenchGermanSpainItalianDutch RussianPortugueseJapaneseKorean ArabicChinese Simplified
Choose Your Language

Kamis, 25 Oktober 2012

Doa Sehari-Hari Agama Hindu

Om Swastyastu,

          Atas asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa. penulis akhirnya dapat menulis kembali doa-doa sehari-hari menurut Hindu ini, yang di kutip dari Buku yang di Himpun oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Donggala tahun 2005, buku yang di pergunakan untuk kalangan sendiri.
penulis menyadari bahwa masih banyak saudara-saudara seiman dan  terutama lebih dikhususkan bagi mereka yang baru memeluk agama Hindu dimana belum mengetahui bagaimana doa sehari-hari menurut Hindu, sehingga penulis ikut serta untuk menyebarkannya. bagi yang kebetulan mampir dan memerlukannya penulis persilahkan untuk meng copynya (gratis), penulis harapkan dapat di mamfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna menambah pahala dan ketaqwaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa.

            Demi lebih sempurnanya, penulis mempersilahkan menulis saran, komentar, dan sumbangan-sumbangan pemikiran, kritik yang konstruktif dari semua pihak.
Demikianlah, semoga semua pikiran yang baik datang dari segala arah

Om Santi, Santi, santi Om

DOA SEHARI-HARI MENURUT HINDU :



NO MACAM DOA TERJEMAHANNYA
1 DOA BARU BANGUN PAGI : OM JAGRASCA PRABHATA KALASCA YA NAMAH SWAHA OH HYANG WIDHI, HAMBA MEMUJA MU, BAHWA HAMBA TELAH BANGUN PAGI DALAM KEADAAN SELAMAT
2 DOA MANDI : a. CUCI MUKA :
OM CAM CAMANI YA NAMAH SWAHA
OM WAKTRA PARISUDAHA YA NAMAH SWAHA
YA TUHAN, HAMBA MEMUJAMU, SEMOGA MUKA HAMBA MENJADI BERSIH
b. MENGGOSOK GIGI : OM RAHPHAT ASTRAYA NAMAH
OM SRI DEWI BHATRIMSA YOGINI NAMAH
YA TUHAN, SUJUD HAMBA KEPADA DEWI SRI, BHATARI YOGINI, SEMOGA BERSIHLAH GIGI HAMBA
c.   BERKUMUR : OM ANG WAKTRA PARISUDHAMAM SWAHA YA TUHAN, SEMOGA BERSIHLAH MULUT HAMBA
d.  MEMBERSIHKAN KAKI : OM AM KHAM KHASOLKHAYA ISWARAYA NAMAH SWAHA YA TUHAN, SEMOGA BERSIHLAH KAKI HAMBA
e.   MANDI : OM GANGGA AMRTA SARIRA SUDHAMAM SWAHA
OM SARIRA PARISUDHAMAM SWAHA
YA TUHAN, ENGKAU ADALAH SUMBER KEHIDUPAN ABADI NAN SUCI, SEMOGA BADAN HAMBA MENJADI BERSIH DAN SUCI
3 DOA PADA WAKTU MENGENAKAN PAKAIAN : OM TAM MAHADEWAYA NAMAH SWAHA
OM BHUSANAM SARIRABHYO PARISUDHAMAM SWAHA
TUHAN DALAM PERWUJUDANMU SEBAGAI TAT PURUSHA, DEWA YANG MAHA AGUNG, HAMBA SUJUD KEPADAMU DALAM MENGGUNAKAN PAKAIAN INI. SEMOGA PAKAIAN HAMBA MENJADI BERSIH DAN SUCI
4 DOA DIWAKTU MAKAN : a. MENGHADAPI MAKANAN :
OM ANG KANG KASOLKAYA ICA NA YA NAMAH SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA BHUTA PRADHANA PURUSA SANG YOGA YA NAMAH
OH HYANG WIDHI YANG BERGELAR ICANA (BERGERAK CEPAT) PARA DEWA BHUTAN, DAN UNSUR PRADHANA PURUSA, PARA YOGI, SEMOGA SENANG BERKUMPUL MENIKMATI MAKANAN INI
b.  YADNYA SESA : OM SARWA BHUTA SUKKA PRETEBHYAH SWAHA OH HYANG WIDHI, SEMOGA PARA BHUTA SENANG MENIKMATI MAKANAN INI DAN SESUDAHNYA SUPAYA PERGI, TIDAK MENGGANGGU
c.   MULAI MAKAN : OM ANUGRAHA AMRTADI SANJIWANI YA NAMAH SWAHA OH HYANG WIDHI, SEMOGA MAKANAN INI MENJADI AMERTA YANG MENGHIDUPKAN HAMBA
d.  SESUDAH MAKAN : OM DIR GHAYUR ASTU, AWIGHNAM ASTU, çUBHAM ASTU
OM SRIYAM BHAWANTU, SUKKAM BHAWANTU, PURNAM BHAWANTU, KSAMASAMPURNA YA NAMAH SWAHA
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM
OH HYANG WIDHI, SEMOGA HAMBA PANJANG UMUR, TIADA HALANGAN, SELALU BAHAGIA, TENTRAM, SENANG DAN SEMUA MENJADI SEMPURNA OH HYANG WIDHI, SEMOGA DAMAI, DAMAI, DAMAI, SELALU
5 DOA MEMULAI PEKERJAAN : OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDHAM
OM SIDHIRASTU TAD ASTU SWAHA
YA TUHAN, SEMOGA ATAS BERKENANMU, TIADA SUATU HALANGAN BAGI HAMBA MEMULAI PEKERJAAN INI DAN SEMOGA BERHASIL BAIK
6 DOA SELESAI BEKERJA / BERSYUKUR : OM DEWA SUKSMA PARAMA ACINTYA YA NAMAH SWAHA, SARWA KARYA PRASIDHANTAM
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
YA TUHAN, DALAM WUJUD PARAMA ACINTYA YANG MAHA GAIB DAN MAHA KARYA, HANYA ATAS ANUGRAHMULAH MAKA PEKERJAAN INI BERHASIL DENGAN BAIK SEMOGA DAMAI, DAMAI DI HATI, DAMAI DI DUNIA, DAMAI SELAMANYA
7 DOA MOHON BIMBINGAN : OM ASATO MA SADYAMAYA TAMASO MA JYOTIR GAMAYA MRTYOR MA AMRTAM GAMAYA
OM AGNE BRAHMA GRBHNISWA DHARUNAMA SYANTA RIKSAM DRDVAMHA
BRAHMAWANITWA KSATRAWANI SAJATA
WAHYU DADHAMI BHRATRWYASYA WADHYAYA
TUHAN YANG MAHA SUCI BIMBINGLAH HAMBA DARI YANG TIDAK BENAR MENUJU YANG BENAR. BIMBINGLAH HAMBA DARI KEGELAPAN MENUJU CAHAYA PENGETAHUAN YANG TERANG. LEPASKANLAH HAMBA DARI KEMATIAN MENUJU KEHIDUPAN YANG ABADI. TUHAN YANG MAHA SUCI. TERIMALAH PUJIAN YANG HAMBA PERSEMBAHKAN MELALUI WEDA MANTRA DAN KEMBANGKANLAH PENGETAHUAN ROHANI HAMBA AGAR HAMBA DAPAT MENGHANCURKAN MUSUH YANG ADA PADA HAMBA (NAFSU). HAMBA MENYADARI BAHWA ENGKAULAH YANG BERADA DALAM SETIAP INSANI (JIWATMAN), MENOLONG ORANG TERPELAJAR, PEMIMPIN NEGARA DAN PARA PEJABAT. HAMBA MENUJU ENGKAU SEMOGA MELIMPAHKAN ANUGERAH KEKUATAN KEPADA HAMBA
8 DOA MOHON INSPIRASI : OM PRANO DEWI SARASWATI WAJEBHIR WAJINIWATI DHINAM AWINYAWANTU YA TUHAN DALAM MANIFESTASI DEWI SARASWATI, HYANG MAHA AGUNG DAN MAHA KUASA, SEMOGA ENGKAU MEMANCARKAN KEKUATAN ROHANI, KECERDASAN PIKIRAN, DAN LINDUNGILAH HAMBA SELAMA-LAMANYA
9 DOA MOHON KECERDASAN : OM PAWAKANAH SARASWATI WAJEBHIR WAJINIWATI YAJNAM WASTU DHIYAWASUH YA TUHAN, SEBAGAI MANIFESTASI DEWI SARASWATI, YANG MAHA SUCI, ANUGERAHILAH HAMBA KECERDASAN DAN TERIMALAH PERSEMBAHAN HAMBA INI
10 a. DOA WAKTU MULAI MEMBACA KITAB AGAMA (VEDA) : OM NARAYANA, OM SARASWATI JAYA OH HYANG WIDHI, NARAYANA OH HYANG WIDHI (SARASWATI) SEMOGA HAMBA MENANG (BERHASIL) JAYA
b.   DOA MULAI BELAJAR : OM PURWE JATO BRAHMANO BRAHMACARI DHARMAM WASANAS TAPASODATISTAT TASMAJJATAM BRAHMANAM BRAHMA IYESTHAM DEWASCA SARWE AMRTTNA SAKAMA YA TUHAN, MURIDMU HADIR DIHADAPANMU, OH BRAHMAN YANG BERSELIMUTKAN KESAKTIAN DAN BERDIRI SEBAGAI PERTAMA, TUHAN, ANUGRAHKANLAH PENGETAHUAN DAN PIKIRAN YANG TERANG. BRAHMAN YANG AGUNG, SETIAP MAHKLUK HANYA DAPAT BERSINAR BERKAT CAHAYAMU YANG SENANTIASA MEMANCAR
11 DOA MENGHENINGKAN CIPTA : OM MATA BHUMIH PUTRO AHAM PRTHIVYAH YA TUHAN, SEMOGA KAMI MENCINTAI TANAH AIR INI SEBAGAI IBU DAN HAMBA ADALAH PUTRA-PUTRANYA YANG SIAP SEDIA MEMBELA SEPERTI PARA PAHLAWAN KAMI
12 DOA MEMOTONG HEWAN : OM PASU PASAYA WIMAHE SIRASCADAYA DHIMAHI TANO JIWAH PRACODAYAT SEMOGA ATAS BERKENAN DAN BERKAHMU PARA PEMOTONG HEWAN DALAM UPACARA KURBAN SUCI INI BESERTA ORANG-ORANG YANG TELAH BERDANA PUNIA UNTUK YADNYA INI MEMPEROLEH KESEJAHTERAAN DAN KEBAHAGIAAN. TUHAN HAMBA MEMOTONG HEWAN INI SEMOGA ROHNYA MENJADI SUCI
13 DOA MENGUNJUNGI ORANG SAKIT : OM SARWA WIGHNA SARWA KLESA SARWA LARA ROGA WINASAYA NAMAH YA TUHAN SEMOGA SEGALA HALANGAN, SEGALA PENYAKIT, SEGALA PENDERITAAN DAN GANGGUAN ENGKAU LENYAPKAN SEMUANYA
14 DOA MENDENGAR ATAU MELAYAT ORANG MATI :
OM SWARGANTU, MOKSANTU, SUNYANTU, MURCANTU,
OM KSAMA SAMPURNA YA NAMAH SWAHA
YA TUHAN YANG MAHA KUASA, SEMOGALAH ARWAH YANG MENINGGAL MENDAPAT SORGA, MENUNGGAL DENGANMU, MENCAPAI KEHENINGAN TANPA DERITA. YA TUHAN AMPUNILAH SEGALA DOSANYA, SEMOGA IA MENCAPAI KESEMPURNAAN ATAS KEKUASAAN DAN PENGETAHUAN SERTA PENGAMPUNANMU
15 DOA PEMBUKA RAPAT/PERTEMUAN : OM SAM GACCHADWAM SAMWADADWAM SAM WO MANAMSI JANATAM DEWA BHAGAM YATHA PURWE SAMJANANA UPASATE
OM SAMANI WA AKUTIH SAMANA HRDAYANI WAH SAMANAM ASTU WO MANO YATHA WAH SUSAHASATI
OM ANO BHADRAH KRATTAWOYANTU WISTAWAH
YA TUHAN, HAMBA BERKUMPUL DI TEMPAT INI HENDAK BICARA SATU DENGAN YANG LAIN UNTUK MENYATUKAN PIKIRAN SEBAGAIMANA HALNYA PARA DEWA SELALU BERSATU. YA TUHAN, TUNTUNLAH KAMI AGAR SAMA DALAM TUJUAN, SAMA DALAM HATI, BERSATU DALAM PIKIRAN HINGGA DAPAT HIDUP BERSAMA DALAM SEJAHTERA DAN BAHAGIA. YA TUHAN, SEMOGA PIKIRAN YANG BAIK DATANG DARI SEGALA PENJURU
16 DOA MENUTUP RAPAT/PERTEMUAN : OM MANTRAHINAM KRIYAHINAM BHAKTIHINAM MAHESWARA, YAD PUJITAN MAHADEWA PARIPURNAM TAD ASTU ME




AYUWRDHIR YASOWRIDHIH WRIDHIH PRADNYASUKHASRIYAM DHARMA SANTANA WRDHISCA SANTU TE SAPTA WRDHAYAH






OM DIRGHAYUR NIRWIGHNA SUKHA WRIDHI NUGRAHAKAM
OH ISWARA YANG AGUNG, MANTRA KAMI TIADA SEMPURNA, PERBUATAN KAMI TIADA SEMPURNA PULA. KARENA ITU KAMI MEMUJAMU, OH ISWARA YANG AGUNG, SEMOGA KAMI DIKARUNIAI KESEMPURNAAN (DI DALAM MELAKUKAN TUGAS
OH SANGHYANG WIDHI WASE, BERKAHILAH KAMI DENGAN TUJUH PERPANJANGAN : HIDUP LAMA, NAMA HARUM, ILMU PENGETAHUAN, KEBAHAGIAAN, KESEJAHTERAAN, KEPERCAYAAN, DAN PUTERA-PUTERA UTAMA (SEBAGAI GENERASI PERJUANGAN BANGSA)
OH SANGHYANG WIDHI WASA, SEMOGA KAMI SUKSES TANPA HALANGAN DAN MEMPEROLEH KEBAHAGIAAN ATAS ANUGERAHMU
17 DOA PARA PEDAGANG : OM A WISWANI AMRTA SAUBHAGANI
YA TUHAN, SEMOGA ENGKAU MENGANUGRAHKAN SEGALA KEBERUNTUNGAN YANG MEMBERIKAN KEBAHAGIAAN KEPADA KAMI
18 DOA SAAT SAKIT / MOHON PERLINDUNGAN MENGHILANGKAN KEGELISAHAN : OM TRAYAM BHAKAM YA JAMAHE SUGHAMDIN PUSTHI WARDHANAM UHRWARU KHAM IWA BHANDHANAT MRITYOR MUKHSYA MAMRITAT OH SANGHYANG WIDHI WASA, YANG MAHA MULIA. KAMI MEMUJAMU, HINDARKANLAH KAMI DARI KERAGUAN INI. BEBASKANLAH KAMI DARI BELENGGU DOSA, BAGAIKAN MENTIMUN LEPAS DARI TANGKAINYA, SEHINGGA KAMI DAPAT BERSATU DENGANMU
19 DOA MENGHILANGKAN RASA TAKUT : OM OM JAYA JIWAT SARIRA RAKSAN DADASIME
OM MJUM SAH WAOSAT MRITYUN JAYA NAMAH SWAHA
OH SANGHYANG WIDHI WASA YANG MAHA JAYA YANG MENGATASI SEGALA KEMATIAN KAMI MEMUJAMU. LINDUNGILAH KAMI DARI MARABAHAYA
20 DOA MENGHINDARI MALAPETAKA : OM SARWA PAPA WINASINI SARWA ROGA WIMOCANE SARWA KLESA WINASANAM SARWA BHOGAM AWAPNUYAT
OM SRIKARE SAPA HUT KARE ROGA DOSA WINASANAM SIWA LOKAM MAHAYASTE MANTRA MANAH PAPA KELAH
OH SANGHYANG WIDHI WASA, TERIMALAH SEGALA PERSEMBAHAN KAMI. ENGKAU MUSNAHKAN SEGALA MALAPETAKA. ENGKAU BEBASKAN SEGALA DERITA, DAN ENGKAU JAUHKAN SEGALA PENYAKIT OH SANGHYANG WIDHI WASA, ENGKAU YANG DIPUJA SEBAGAI PENGUASA ALAM SEMESTA, ENGKAU MENJIWAI INTI SEGALA MANTRA, BEBASKANLAH SEGALA DOSA DAN DERITA, SERTA TUNTUNLAH KAMI KE JALAN YANG BENAR
21 DOA RESEPSI PENGANTIN : OM IHA IWA STAM MA WI YAUS TAM WISWAM AYUR WYASNUTAM KRIDANTAU PUTRAIR NAPTRBHIH MODAMANAU SWE GRHE YA TUHAN, ANUGERAHKANLAH KEPADA PASANGAN PENGANTEN INI KEBAHAGIAAN, KEDUANYA TIADA TERPISAHKAN DAN PANJANG UMUR. SEMOGA PENGANTEN INI DIANUGERAHKAN PUTERA DAN CUCU YANG MEMBERIKAN PENGHIBURAN, TINGGAL DI RUMAH YANG PENUH KEGEMBIRAAN
22 DOA MOHON KETENANGAN RUMAH TANGGA: OM WISOWISO WO ATITHIM WAJAYANTAH PURUPRIYAM AGNIM WO DURYAM WACAH STUSE SUSASYA MANMABHIH
YA TUHAN, ENGKAU ADALAH TAMU YANG DATANG PADA SETIAP RUMAH. ENGKAU AMAT MENCINTAI UMATMU. ENGKAU ADALAH SAHABAT YANG MAHA PEMURAH. PERKENANKANLAH HAMBA MEMUJAMU DENGAN PENUH KEKUATAN, DALAM UCAPAN MAUPUN TENAGA DAN DALAM LAGU PUJIAN
23 DOA KELAHIRAN BAYI : OM BRHATSUMNAH PRASAWITA
OM BRHATSUMNAH PRASAWITA NIWESANO JAGATAH STHATURUB HAYASYA YO WASI SANO DEWAH SAWITA SARMA YACCHA TWASME KSAYAYA TRIWARUTHAM AMHASAH
YA TUHAN YANG MAHA PENGASIH, YANG MEMBERI KEHIDUPAN PADA ALAM DAN MENEGAKKANNYA. IA MENGATUR YANG BERGERAK MAUPUN YANG TIDAK BERGERAK SEMOGA IA MEMBERI RAHMATNYA KEPADA KAMI UNTUK KETENTRAMAN HIDUP DENGAN KEMAMPUAN UNTUK MENGHINDARI KEKUATAN YANG JAHAT
24 DOA ULANG TAHUN KELAHIRAN : OM DIRGAYURASTU TAD ASTU ASTU SWAHA OH SANGHYANG WIDHI WASA SEMOGA BAHAGIA DAN PANJANG UMUR ATAS KARUNIAMU
25 DOA MENOLAK BAYAYA : OM OM ASTA MAHA BAYAYA
OM SARWA DEWA, SARWA SANJATA, SARWA WARNA YA NAMAH,
OM ATMA RAKSAYA, SARWA SATRU, WINASAYA NAMAH SWAHA
OH SANGHYANG WIDHI WASA PENAKLUK SEGALA MACAM BAHAYA DARI SEGALA PENJURU, HAMBA MEMUJAMU DALAM WUJUD SINAR SUCI DENGAN BERANEKA WARNA DAN SENJATA YANG AMPUH. OH SANGHYANG WIDHI WASA LINDUNGILAH JIWA KAMI. SEMOGA SEMUA MUSUH BINASA
26 DOA SEBELUM TIDUR : OM ASATO MA SAT GAMAYA, TAMASO MA JYOTIR GAMAYA MRITYOR MAMRITAN GAMAYA OH SANGHYANG WIDHI WASA, TUNTUNLAH KAMI DARI JALAN SESAT KE JALAN YANG BENAR, DARI JALAN GELAP KE JALAN YANG TERANG HINDARKAN KAMI DARI KEMATIAN MENUJU KEHIDUPAN SEJATI
27 DOA SEBELUM MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI (BERSENGGAMA): OM KRUNG KAMA SUPURNA DEWATA MANGGALA YA NAMAH SWAHA YA TUHAN, DEWA ASMARA YANG AMAT SUCI YANG TERUTAMA KAMI HORMATI
DOA PENGASTAWA :

NO MACAM DOA TERJEMAHANNYA
1 ASANA (SIKAP SEMPURNA) : OM PRASADA STHITI ÇARIRA ÇIWA SUCI NIRMALA YA NAMAH SWAHA OH HYANG WIDHI DALAM WUJUD SIWA, SUCI TAK TERNODA, HORMAT HAMBA TELAH DUDUK DENGAN TENANG
2 PRANAYAMA (MENGATUR NAFAS) : a. PURAKA (TARIK NAFAS) :
OM ANG NAMAH
b. KUMBAKA (TAHAN NAFAS) :
OM UNG NAFAS
c. RECAKA (KELUARKAN NAFAS) :
OM MANG NAMAH

OH HYANG WIDHI DALAM AKSARA ANG PENCIPTA, HAMBA HORMAT
OH HYANG WIDHI DALAM AKSARA UNG PEMELIHARA, HAMBA HORMAT
OH HYANG WIDHI DALAM AKSARA MANG PELEBUR, HAMBA HORMAT
3 PENYUCIAN TANGAN : a. TANGAN KANAN :
OM SUDHAMAM SVAHA
b. TANGAN KIRI :
OM ATI SUDHAMAM SVAHA

OH HYANG WIDHI SEMOGA HAMBA BERSIH
OH HYANG WIDHI SEMOGA HAMBA MENJADI SANGAT BERSIH
4 PUJA UNTUK DUPA : OM ANG DUPA DIPASTRA YA NAMAH OH HYANG WIDHI, HAMBA PERSEMBAHKAN DUPA INI
5 MENYUCIKAN KEMBANG : OM PUSPA DANTA YA NAMAH OH HYANG WIDHI, SEMOGA PUSPA INI MENJADI SUCI PUTIH BAGAIKAN GIGI
6 DOA MEMASANG BIJA : a. BIJA UNTUK DIDAHI :
OM ÇRIYAM BHAWANTU
b. BIJA DI BAWAH TENGGOROKAN :
OM SUKHAM BHAWANTU
c. BIJA UNTUK DI TELAN :
OM PURNAM BHAWANTU,
OM KSAMA SAMPURNA YA NAMAH SWAHA

OH HYANG WIDHI SEMOGA KEBAHAGIAAN MELIPUTI HAMBA
OH HYANG WIDHI, SEMOGA KESENANGAN SELALU HAMBA PEROLEH
OH HYANG WIDHI SEMOGA KESEMPURNAAN MELIPUTI HAMBA, OH HYANG WIDHI SEMOGA SEMUANYA MENJADI BERTAMBAH SEMPURNA
7 PUJA DI PADMASANA : OM ANANTASANA PADMASANA YA NAMAH OH HYANG WIDHI YANG BERSINGGASANA DI PADMASANA / LAMBANG TERATAI SUCI / YANG TIADA TERBATAS, HAMBA MEMUJAMU
8 PUJA DI PEMERAJAN / RONG TIGA : OM BRAHMA WISNU IÇWARA DEWAM, JIWATMANAM TRILOKANAM, SARWA JAGAT PRATISTANAM, SUDDHA KLESA WINASANAM,
OM GURU PADUKA DIPATA YA NAMAH
YA TUHAN, BERGELAR BRAHMA, WISNU, ISWARA YANG BERKENAN TURUN MENJIWAI ISI TRILOKA, SEMOGA SELURUH JAGAT TERSUCIKAN, BERSIH SERTA SEGALA NODA TERHAPUSKAN OLEHMU. YA TUHAN SELAKU BAPAK ALAM, HAMBA MEMUJAMU
9 PUJA DI ULUN SUWI / BEDUGUL / PENGULUN CARIK : OM ÇRI DANA DEWIKA BAWYAM, SARWA RUPA WATI TASYA, SARWAJNAKA MITIDATYAM, ÇRI ÇRI DEWI NAMASTUTE,
OM ÇRI DEWI DIPATA YA NAMAH

YA TUHAN SAKTIMU SELAKU DEWI SRI YANG MAHA DERMAWAN DAN MULIA YANG MENGANUGERAHI SEMUA MAHKLUK DAN SELALU MENYUCIKAN HATI MAHKLUK. YA DEWI SRI KAMI MEMUJAMU
10 UNTUK HARI RAYA SARASWATI : OM BRAHMA PUTRI MAHA DEWI BRAHMANYA BRAHMA WANDHINI SARASWATI SAYAJANAM, PRAJA NAYA SARASWATI,
OM SARASWATI DIPATA YA NAMAH
YA TUHAN, SAKTIMU SELAKU MAHA DEWI DARI BRAHMA, PANCARAN PRADANA DARI BRAHMA, SARASWATI, DEWI BERKEMAMPUAN BERPIKIR, SARASWATI YANG TAK ADA TARA KEBIJAKSANAANNYA. YA DEWI SARASWATI HAMBA MENYEMBAH PADAMU
DOA MENGHATURKAN SESAJEN :

NO MACAM DOA TERJEMAHANNYA
1 PEMERCIKAN AIR SUCI / TIRTA OM MANG PARAMA ÇIWA AMERTA YA NAHAM SWAHA OH HYANG WIDHI PARAMA SIWA DALAM MANG PELEBUR MALA, MENGANUGERAHKAN AMERTA
2 PUJA DEWA PRASTITA : OM ANG DEWA PRATISTHA YA NAMAH OH HYANG WIDHI SEMOGA HYANG WIDHI BERSTANA DALAM KESUCIAN BHAKTI HAMBA, DALAM UCAPAN ANG PENCIPTA ALAM
3 MENGHATURKAN DUPA : OM AGNIR-AGNIR JYOTIR-JYOTIR DUPAM SAMAR PAYAMI -
4 MENGHATURKAN BUNGA MENURUT WARNA : MISALNYA DENGAN BUNGA 5 WARNA :
OM PUSPA PANCA WARNA YA NAMAH SWAHA

-
5 PENYUCIAN SESAJEN : OM KARA MURCYATE, PRAS PRAS PRANAMYA YA NAMAH SWAHA OH HYANG WIDHI, ENGKAU ADALAH OMKARA BENTUK AKSARA SUCI, SEMOGA UPACARA HAMBA MENJADI SEMPURNA, SEMPURNA, SEMPURNA UNTUK BHAKTI HAMBA KEPADAMU
6 NGAYABAN SESAJEN UNTUK PARA DEWA / TUHAN YANG MAHA ESA : OM DEWA AMUKTI, SUKHAM BHAWANTU, PURNAM BHAWANTU, SRIYAM BHAWANTU NAMO NAMAH SWAHA -
7 MENGHATURKAN SESAJEN UNTUK LELUHUR : OM BUKTIANTU PITARA DEWAM, BUKTI MUKTI WARA SWADAH, ANG AH -
8 MENGHATURKAN SEGEHAN : OM BUKTIANTU DURGA KATARA, BUKTIANTU KALAMEWACA, BUKTI ANTU BHUTA BUTANGAH OH HYANG WIDHI, HAMBA MENYUGUHKAN SESAJEN KEPADA DURGA KATARA, KEPADA KALAMAWACA DAN KEPADA BHUTA BHUTANGAH
9 YADNYA SESA : a. UNTUK PARA BHUTA  SAMA SEPERTI YADNYA SESA WAKTU MAKAN :
OM SARWA BHUTA PRETEBYAH SWAHA
b. UNTUK LELUHUR :
OM BUKTIANTU PITARA DEWAM, BUKTI MUKTI WARA SWADAH, ANG AH
c. UNTUK PARA DEWATA :
OM DEWA AMUKTI SUKHAM BHAWANTU, PURNAM BHAWANTU, SRIYAM BHAWANTU, NAMA NAMAH SWAHA
- -
-
PUJA TRI SANDHYA / GAYATRI MANTRAM :
a OM bhūr bvah svah tat savitur varenyam
bhargo devasya dhïmahi
dhiyo yo nah pracodayãt
OM adalah bhur bwah swah, kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemulian Sang Hyang Widhi semoga Ia berikan semangat pikiran kita
b OM nãrãyana evedam sarvam yad bhūtam yacca bhavyam
niskalańko niraňjano
nirvikalpo nirãkhyãtah
śuddo deva eko
narayano na dvit’yo asti kaścit
OM narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada kedua
c OM Tvam Sivah Tvam Mahādevah Īsvarah Parameśvarah
Brahmā Visnusca Rudraśca
Purusah Parikīrtitah
OM engkau dipanggil siwa, mahadewa, iswara, parameswara, brahma, wisnu, rudra dan purusa
d OM Pāpo ham pāpakarmāham Pāpātmā pāpasambhavah
Trāhi mām pundarīkāksa
Sabāhyābhyāntarah śucih
Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba, Sang Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba
e OM Ksamasva mām mahādeva Sarvaprāni hitaňkara
Mām moca sarva pāpebyah
Pālayasva sadā siva
OM, ampunilah hamba Sang Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan mahkluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah OH Sang Hyang Widhi
f Om Ksāntavyah kāyikodosah Ksāntavyo Wacika Mama

Ksāntavyo mānaso dosah
Tat pramādāt ksamasva mām

OM Santih, Santih, Santih OM
OM ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba
OM damai, damai, damai OM
***
Tambahan :
Mengapa dalam setiap doa Hindu selalu diawali dengan OM? apa itu OM? Om itu bukanlah Suami dari Tante, atau panggilan untuk menyebut Paman… tetapi pengertian OM disini sangat jauh berbeda dan bukan itu yang dimaksudkan, simaklah sedikit ulasan / pengertian tentang kata Om dalam setiap doa / mantra umat Hindu dibawah ini.
Pengertian Om dalam setiap Doa Hindu
Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan.
OM Berasal dari Kata AUM atau singkatan dari kata ANG UNG dan MANG yang merupakan aksara suci dari Tuhan yang Maha Esa dalam wujud Dewa Trimurti (Brahma = Ang, Wisnu = Ung, dan Siwa = Mang) yang jika dibaca aksara itu menjadi OM, gabungan dari ketiga aksara ini disebut dengan istilah Ong Kara. Aksara Ong-kara inilah sumber dari semua aksara, sehingga disebut wija-aksara, aksara yang maha suci, lambang Dewa Trimurti.
Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan

source: dewaarka

Senin, 15 Oktober 2012

Sejarah Warga Pande di Bali



 Pande yang dimaksud disini pande dalam arti keturunan (clan), soroh dari seseorang yang dahulu leluhurnya mempunyai propesi sebagai ”memande” apakah memande itu membuat alat dari logam berupa perunggu ( gong, alat-alat keagamaan dan lain-lain), berupa besi ( cangkul pisau tombak keris dan lain-lain), berupa emas perak ( perhiasan, alat-alat keagamaan dan lain-lain) semua dapat digolongkan dalam istilah anggtandring dan angaluh. Memande adalah suatu pekerjaan yang hasilnya sangat diperlukan oleh seluluh lapisan masyarakat. Memande dan berdagang memang sudah digeluti oleh para pande sejak dahulu (wawancara,28 maret 2011).
Dasarnya warga pande tinggal disuatu tempat degan berkelompok. Tetapi begitu ditempat baru ( Desa yang membutuhkannya) mereka memecah diri untuk mengisi pande ditempat beru tersebut tetapi ikatan kekerabatan/leluhur menyatukan kembali mereka dalam adat keagamaan terutama pada hari raya tumpek landep.


 Pande Yang Ada Di Nusantara
Untuk menelusuri lebih jauh asal usul warga pande dimasa lalau kita berpedoman pada pembuktian archeologi yang menyangkut alat-alat yang dipakai manusia di masa lalu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah zaman batu yang disebut zaman neolithicum berakhir maka selanjutnya timbut zaman logam. Jaman ini dicirikan ditemukannya saat itu suatu bahan dari dalam tanah bijih logam yang diproses sedemikian rupa lalu mengasilkan barang-barang atau alat-alat penting untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Zaman logam dibagi menjadi tiga zaman yaitu zaman tembaga, zaman prunggu, zaman besi.
Pada zaman dahulu kaum pande diangap/digolongkan sebagai masyarakat tersendiri yang memiliki teknik dan kemampuan khusus sehinga banyak yang bergelar empu. Zaman dahulu hanya warga pande yang bisa membuat alat/barang dari logam sehinga keberadaan warga pande sezaman dengan mulainya zaman logam. Kapan zaman logam itu ada pada saat itulah ada kaum pande.
Menurut Dr. R Soekmono dalam bukunya yang berjudul ”sejarah kebudayaan Indonesia I ” menyatakan kebudayaan logam itu berasal dari luar Asia Tenggara. Berarti bila kaum pande memakai sistim keturunan purusa maka dapat dipastikan kaum warga pande  berasal dari luar Asia Tenggara. Mereka berasal dari satu keluarga yang menemukan teknik pengolahan logam menjadi alat-alat keperluan manusia  lalu seluruh keluarganya turun temurun menjadi pande. Kebudayaan logam di Indonesia memang termasuk satu golongan dengan kebudayaan logam Asia yang berpusat di Dongson.
Kaum pande yang berpropesi mengolah logam tersebut sebelum menyebar di bumi Nusantara. Mereka sebagain besar mereka bermukim di Dongson ( Teluk Tongkin) memande alat-alat yang bahannya dari perunggu maupun dari besi. Mereka bermukim di Dongson ini mulai kurang lebih 300 tahun SM. Jadi pande yang bermukim di Teluk Tongkin adalah cikal bakal pande yang datang kenusantara kemudian. Mereka berasal dari satu keluarga yang kemudian berkembang menjadi clan pande. Perpindahan mereka ke Nusantara adalah pada zaman perunggu ± 2500 tahun SM bersama dengan kelompok penduduk lain yang lebih besar.
Warga Pande Di Bali
Kedatangan para pande di Bali seiring kedatangan para penguasa yang datang dari seberang/luar pulau Bali. Sejarah menyatakan bahwa pada abad-abad VII-VIII M di Bali dikuasai oleh raja-raja dari dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram (Jawa Tengah). Tetapi jauh sebelum itu pengingalan-peningalan arkeologi membuktikan di pulau Bali dihuni oleh para pande yang hidup dalam masyarakat pada zaman itu (zaman Bali mula).
Pada zaman prasejarah di Bali masyarakat mengeal peti dari batu yang bernama sarkopagus yang digunakan untuk menyimpan mayat orang yang semasa hidupnya yang sangat berpengaruh. Ini membuktikan bahwa alat-alat yang dipakai untuk membuat sarkopagus tersebut adalah buatan para pande yang telah menghuni pulau bali pada zaman prasejarah yaitu pada zaman pra Hindu.
Desa Trunyan Kintamani sebagai desa tua yang keberadaanya diyakini paling tua di Bali telah hidup pada zaman megalitik yaitu jauh sebelum masehi dan juah sebelum kedatangan Hindu di Bali mereka memiliki kepercayaan bahwa Dewa tertinggi mereka bernama Ratu Sakti Pancering jagat juga disebut Da Tonta. Dewa ini bukan dewa dalam agama Hindu, beliau adalah leluhur/kawitan orang Desa Trunyan yang paling dimulikan. Di Pura tempat Da Tonta disemayamkan pada sebuah pelingih yang disebut Pura Dewa Pande. Rupaya pada zaman pra Hindu telah ada para pande di Desa Trunyan meskipun sekarang ini  di Desa Trunyan tidak ada warga pandenya lagi (Nyoman Wista Darmada (pande Nongan) dan Made Gede Sutama (Pande Celuk), 1996: 17).
Sekitar awal abad VI Masehi telah datang ke Bali Rsi Markandea penyebar agama Hindu yang membawa sejumalah pekerja. Beliau juga membawa warga pande dari Jawa. Para warga pande yang dibawa oleh Rsi Markandeya kemudian bermukim disekirtar daerah Desa Taro. Sekitar Danau Batur, Danau Tamblingan dan Besakih ( zaman Bali Age). Kemudian pada abad VI Masehi datang lagi ke Bali salah seorang  agama Hindu bernama Sri Agni Jaya Sakti salah seorang pengikut Sang Aji Saka. Beliau beraliran Brahmana dan kedatangannya ke Bali bersama-sama pendeta Siwa dan Budha.
Ajaran agama Hindu yang diajarkan oleh Sri Angi Jaya Sakti mengajarkan agama kepada masyarakat sekitar adalah agama Hindu yang beraliran Brahmana. Ajaran – ajaran beliau antara lain terntang:
a)      Prihal membuat senjata yaitu tombak keris dan mantram-mantramnya
b)      Prihal memilih baik buruknya senjata tombak dam keris yang disebut ”carcaning keris”.
c)      Prihal pakaian perang serta mantram-mantramnya serta tulisan-tulisan yang diangap bertuah.
d)     Prihal siasat perang.
Dari keempat ajaran tersebut diatas yang dibawa Sri Angi Jaya Sakti . ajaran pertama dan ke dua sangat berkaiatan dengan keahlian/propesi pande. Hanya pande yang memiliki mantram dalam pembuatan senjata dan hanya pande yang mengerti dan menghayati carcaning keris. Ajaran ketiga dan keempat sangat terkait dengan ajaran pertama dan kedua dimana dihendaki peningkatan persepsi tentang cara mempermainkan perang sebagai seorang prajurit atau pengatur siasat perang dari seorang pande. Tidak salah cerita orang terdahulu bahwa warga pande selau berada dimuka sebagai pemuka dalam peperangan karena dia tahu siasat menghayati arti pusaka degan segala isinya (pasupatii).`
 Pande Bang
Pada zaman ini para pande yang datangnya bersama Sri Kesari Warmadewa berasal dari Indonesia berdiam berkelompok di empat tempat. Yaitu:
  1. kelompok pande yang berdiam di daerah Besakih dan sekitarnya.
  2. kelompok pande yang berdiam disekitar daerah Renon (badung) dan sekitarnya.
  3. kelompok pande yang mendiami pingiran Danau Tamblingan.
  4. kelompok pande yang tingal dipejeng.
Dari keempat tempat pande yang bermukim di Danau Tamblingan mendapat perlakuan istimewa karena jenis barang yang mereka hasilkan bersifat istimewa serta skill/kepandaiannya yang mereka sangal unggul. Ada keistimewaan lain pada mereka yaitu mereka dibebaskan dari segala pajak yang mestiya harus dibayar oleh penduduk.
Terpecahnya warga pande yang bermukim  di Danau tamblingan karena pada saat itu Raja Sri Tapolung yang bergelar ”Bhatara Cri Asta Asura Ratna Bumi Banten” menyatakan dirinya tidak lagi tunduk kepada kekuasaan Raja Jawa ( Majapahit ). Sehingga raja majapahit menghukum atas sikapnya, Raja Majapahit Sri Hayam Wuruk mengirim pasukan untuk menyerang Bali. Sasaran utamanya adalah warga Pande yang ada di Danau Tamblingan karena diangap senjata-senjata penguasa Sri Tapolung berada di daerah ini. Penduduk lainnya yang berada dipingiran Danau Tamblingan ikut melahirkan diri dan kebanyakan dari mereka menyembuyikan diri ke hutan sebelah barat danau (daerah Gobleg).
Penguasa Bali kemudian setelah Sri Tapolung yaitu Dalem Semara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir) yang memerintah Bali dari istananya di Gelgel merasa perlu untuk memanggil kembali para pande yang telah lari meningalkan danau Tamblingan agar kembali ke asalnya.
Demikianlah keadaan dari keempat kelompok pande Bang pada zaman Sri Kesari Warmadewa sampai zaman Pejeng. Keempat kelompok yang mengikuti Sri Kesari Warmadewa tersebut dinamakan pande bang termasuk didalam Pande Bangke Maong, alias Pande Tamblingan. Ada dolemik dalam masyarakat Bali setelah kehancuran kerajaan pejeng tentang nama Pande Bangke Maong. Julukan ini diberikan kepada kelompok pande yang kalah perang bahwa mereka mati nantinya mayatnya akan menjadi maong.
Demikian bencinya para penguasa baru kepada para pande sehinga nama Pande Bangke Maong menjadi momok/menakutkan bagi seluluh keluarga pande dan mereka menghindari dirinya disebut Pande Bangke maong. Penguasa akan membunuh pande yang benar-benar adalah keturunan Pande bangke Maong. Kemudian muncul semacam sanggahan halus dari para pande yang menyatakan bahwa pengucapan Pande Bangke Maong  sebenarnya adalah Pande Bang Kemaong (pande bang saja).
 Pande Pada Zaman Gelgel
Pada zaman Gelgel tersebut kedatangan warga pande ke Bali itu merupakan prajurit-prajurut dari majapahit yang bukan orang sembarangan seperti Empu Brahma Wisesa dan Empu Lelumang. Beliau orang-orang tersohor kesaktiannya serta mempunyai hubungan dekat dengan raja Majapahit. Dengan adanya ikatan kembali dengan raja Majapahit raja Dalem Semara Kepakisan saja Bali yang bertahta di Gelgel mulai mendapat simpati rakyat Bali agar tidak mengadakan pemberontakan dikemudian hari. Sebelumnya telah menjadi pemberontokan yaitu pemeberontakan Takawa tahun 1345 dan pemberontakan Makambika tauhun 1347( keduanya keluarga raja Pejeng). Sehinga mengambil keputusan oleh Dalem Semara Kepakisan sebagai berikut:
a)      Pura Besakih dijadiakn Pura kerajaan pusat seluruh Bali.
b)      Pura Dasar di Gelgel ditingkatkan statusnya menjadi Pura Kekerajaan yang sama statusnya dengan Pura Pusering Jagat pada zaman kerajaan Bedahulu.
c)      Kaum Pasek Bendesa turunan Bali asli memegang kekuasaan di tiap-tiap daerah dan kahyangan menjadi pembesar atau tabeng puri
d)     Kauam Pande (turunan Bali asli) yang mahir dalam pembuatan senjata menjadikan pembesar dan mengepalai alat-alat besi.
Para pande juga akan pindah ke tempat atau Desa baru yang belum ada pandenya. kadang-kadang atas kehendak mereka sendiri atau atas perintah penguasa. Demikian seterusnya sehinga akhirnya sukar bagai kita membedakan pertalian anatra pande-pande yang berbeda masa kedatangannya ke Bali.
Diceritakan dalam prasasti/babad bagaimana situasai kondisi pada saat pemerintahan Dalem Bekung semua penduduk kota kerajaan Gegel terpecah belah terutama keturuanan Majapahit. Akibat keikutsertaan para pande di Klungkung memberontak pada Raja akhirnya Pura Dalem Tusan ( Pura Pande yang dibuatkan Dalem Gelgel untuk Sentana Sire Tusan) lama tidak terurus, para pande tidak berani ngaturang piodalan karena situasi kerajaan yang sangat genting. Sewaktu-waktu para pande dapat terbunuh ketika akan ke Pura  atau bisa sewaktu sehabis sembahyang.
Masalah  warga pande ketika Ida Dalem berada dalam liputan Ida Sang Hyang Sengara (penasehatnya). pada saat itu juga Sire Pande seluruhnya baik, besar, kecil, tua, muda biar bayi sekalipun ikut dibunuh. Sunguh amat teragisnya tidak keprimanusiaan tetapi Tuhan tidaklah membiarkan umatnya dibegitukan, maka ada satu orang pande yang berada di bawah menguasaan Ida Sang Hyang Ibu yang disembunyikan Oleh Djangga Wadita di bawah air terjun ( bantang matiyem).

Kasta Pande Tidak Boleh Memakan Be Jeleg (Jangga Wadita)

Kasta Pande Tidak Boleh Memakan Be Jeleg 
(Jangga Wadita) 
 Pada tahun 1556 Masehi, ketika terjadi pembrontakan atas pemerintahan Dalem Bekung yang dilakukan oleh Arya Batan Jeruk ( keturunan arya kepakisan ) sehingga Arya Batan dianggap Angesti Muji Dadia Sang Prabu. ( bercita2 ingin menjadi Raja ). Akhirnya Arya Batan Jeruk tewas setelah di kejar sampai Bonganya, Karang Asem. Pembrontakan selanjutnya dilakukan oleh Kyayi Pande Bhasa, yang terlibat pembrontakan ini Dalah Keluarga Pande Capung yang didukung keluarga besar.
Kerajaan Gelgel terpecah belah terutama keturunan Majapahit. Mereka menegaskan jati diri, karena ada unsur saling curiga. Para pasek dan Pande mebantu penguasa yang dekat sama mereka. Kasta Pande adalah salah satu kasta yang memiliki kelebihan mengolah besi untuk dijadikan keris atau pedang. Banyak orang yang mempercayai keris buatan kasta Pande memiliki keunikan tersendiri. Pada zaman itu, tidak hanya kasta Pande saja yang pintar membuat keris, membuat keris merupakan ajang persaingan untuk menarik para konsumen. Konon katanya jika orang yang berkasta Pande bertempur dengan pesaingnya, keris yang digunakan itu  tidak sampai menancap ketubuh lawannya, tetapi  keris hanya dibuka dan dipegang(ngungkulin) pesaingnya sudah tewas.
 Ketika pembrontakan dapat di padamkan yang memihak raja tetap tinggal di Gelgel dan yang memihak para pemberontak mengungsi dan menyelamatkan diri, karena keterlibatan para pande terutama di Klungkung. Sewaktu-waktu para pande dapat terbunuh. Sang Bhagawan sebagai penasehat Raja bercerita kepada Raja bahwa penyebab kekacauan yang merajarela adalah Sire Pande. Menurut Bhagawan, Sire Pande yang membuat senjata ke sana ke mari dan meyakinkan raja bahwa Sire Pande menyebabkan hal itu dan menyarankan membunuh semua Sire Pande sampai habis karena jadi biang keladi. Ida Dalem menerima saran dari Sang Bhagawan dan memerintahkan membunuh seluruh warga Pande baik yang kecil, bayi, muda, tua tanpa pri kemanusiaan.
Tetapi atas perlidungan Ida Ratu Bagus Pande ada seorang warga Pande masih hidup. Warga pande itu dilindungi dan di sembunyikan oleh Jangga Wadita ( be jeleg ) di bawah air terjun, di Sawah Gambangan. Orang yang memburu kasta Pande itu berpikir tidak mungkin kasta Pande bersembunyi di telaga itu. Ikan yang ada  di telaga itu tidak beranjak pergi.  Jika air terjun ini menjadi persembunyian kasta Pande sudah  pasti ikan Gabus yang mengambang di telaga ini akan pergi, dan gelombang airpun tidak ada sama sekali. Dengan mengalami kejadian itu kasta Pande bersumpah sampai keturunannya tidak akan memakan ikan Gabus. Oleh karena itu, Pura Gande Mayu yang ada di Klungkung, kasta Pande dan Ida Bagus menjadi satu Pemedalan. Hanya dibatasi dengan tembok penyengker Pura.

Selasa, 09 Oktober 2012

HARI RAYA SARASWATI

             
              Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali disebutkan "Hyang Hyangning Pangewruh."

Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), kropak (pustaka), ganitri (japa mala) dan bunga teratai. Dewi Saraswati dilukiskan berada di atas angsa dan di sebe-lahnya ada burung merak. Dewi Saraswati oleh umat di India dipuja dalam wujud Murti Puja. Umat Hindu di Indonesia memuja Dewi Saraswati dalam wujud hari raya atau rerahinan.

Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati.

Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari.

Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta dilangsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan.

Filosofi dan Mitologi

Upacara dan upakara dalam agama Hindu pada hakikatnya mengandung makna filosofis sebagai penjabaran dari ajaran agama Hindu. Secara etimologi, kata Saraswati berasal dari Bahasa Sansekerta yakni dari kata Saras yang berarti "sesuatu yang mengalir" atau "ucapan". Kata Wati artinya memiliki. Jadi kata Saraswati secara etimologis berarti sesuatu yang mengalir atau makna dari ucapan. Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus-menerus tiada henti-hentinya ibarat sumur yang airnya tiada pernah habis mes-kipun tiap hari ditimba untuk memberikan hidup pada umat manusia.

Sebagaimana disebutkan, Saraswati juga berarti makna ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan memberikan makna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah yang akan menjadi dasar orang untuk menjadi manusia yang bijaksana. Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan atau ananda. Kehidupan yang bahagia itulah yang akan mengantarkan atma kembali luluh dengan Brahman.

Dalam upacara atau hari raya Saraswati, bagi umat Hindu di Indonesia, upacara dihaturkan dalam tumpukan lontar-lontar atau buku-buku keagamaan dan sastra termasuk pula buku-buku ilmu pengetahuan lainnya. Bagi umat Hindu di Indonesia aksara yang merupakan lambang itulah sebagai stana Dewi Saraswati. Aksara dalam buku atau lontar adalah rangkaian huruf yang membangun ilmu pengetahuan aparawidya maupun parawidya. Aparawidya adalah ilmu pengetahuan tentang ciptaan Tuhan seperti Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Parawidya adalah ilmu pengetahuan tentang sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu di Indonesia - juga di Bali - tidak ada pelinggih khusus untuk memuja Saraswati yang di Bali diberi nama lengkap Ida Sang Hyang Aji Saraswati.

Gambar atau patung Dewi Saraswati yang dikenal di Indonesia berasal dari India. Dewi Saraswati ada digambarkan duduk dan ada pula versi yang berdiri di atas angsa dan bunga padma. Ada juga yang berdiri di atas bunga padma, sedangkan angsa dan burung meraknya ada di sebelah menyebelah dengan Dewi Saraswati. Tentang perbedaan versi tadi bukanlah masalah dan memang tidak perlu dipersoalkan. Yang terpenting dari penggambaran Dewi Saraswati itu adalah makna filosofi yang ada di dalam simbol gambar tadi. Dewi yang cantik dan berwibawa menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang amat menarik dan mengagumkan. Kecantikan Dewi Saraswati bukanlah kemolekan yang dapat merangsang munculnya nafsu birahi.

Kecantikan Dewi Saraswati adalah kecantikan yang penuh wibawa. Memang orang yang berilmu itu akan menimbulkan daya tarik yang luar biasa. Karena itu dalam Kakawin Niti Sastra ada disebutkan bahwa orang yang tanpa ilmu pengetahun, amat tidak menarik biarpun yang bersangkutan muda usia, sifatnya bagus dan keturunan bangsawan. Orang yang demikian ibarat bunga merah menyala tetapi tanpa bau harum sama sekali. Sedangkan cakepan atau daun lontar yang dibawa Dewi Saraswati merupakan lambang ilmu pengetahuan. Sedangkan genitri adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tiada habis-habisnya. Genitri juga lambang atau alat untuk melakukan japa. Ber-japa yaitu aktivitas spiritual untuk menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Ini pula berarti, menuntut ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ini berarti pula, ilmu pengetahuan yang mengajarkan menjauhi Tuhan adalah ilmu yang sesat.

Wina yaitu sejenis alat musik, yang di Bali disebut rebab. Suaranya amat merdu dan melankolis. Ini melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung keindahan atau estetika yang amat tinggi. Bunga padma adalah lambang Bhuana Agung stana Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti ilmu pengetahuan yang suci itu memiliki Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Teratai juga merupakan lambang kesucian sebagai hakikat ilmu pengetahuan.

Angsa adalah jenis binatang unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu tidak suka berkelahi dan suka hidup harmonis. Angsa juga memiliki kemampuan memilih makanan. Meskipun makanan itu bercampur dengan air kotor tetapi yang masuk ke perutnya adalah hanya makanan yang baik saja, sedangkan air yang kotor keluar dengan sendirinya. Demikianlah, orang yang telah dapat menguasai ilmu pengetahuan, kebijaksanaan mereka memiliki kemampuan wiweka. Wiweka artinya suatu kemampuan untuk membeda-bedakan yang baik dengan yang jelek dan yang benar dengan yang salah.

Bunga Padma atau bunga teratai adalah bunga yang melambangkan alam semesta dengan delapan penjuru mata anginnya (asta dala) sebagai stana Tuhan. Burung merak adalah lambang kewibawaan. Orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang akan mendapatkan kewibawaan. Sehubungan dengan ini, Swami Sakuntala Jagatnatha dalam buku Introduction of Hinduisme menjelaskan bahwa ilmu yang dapat dimiliki oleh seseorang akan menyebabkan orang-orang itu menjadi egois atau sombong. Karena itu ilmu itu harus diserahkan pada Dewi Saraswati sehingga pemiliknya menjadi penuh wibawa karena egoisme atau kesombongan itu telah disingkirkan oleh kesucian dari Dewi Saraswati. Ilmu pengetahuan adalah untuk memberi pelayanan kepada manusia dan alam serta untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di dalam upakara yang disebut Banten Saraswati salah satu unsurnya ada disebut jajan Saraswati. Jajan ini dibuat dari tepung beras berwarna putih dan berisi lukisan dua ekor binatang cecak. Mata cecak itu dibuat dari injin (beras hitam) dan di sebelahnya ada telur cecak. Dalam banten Saraswati itu mempunyai arti yang cukup dalam. Menurut para ahli Antropologi, bangsa-bangsa Austronesia memiliki kepercayaan bahwa binatang melata seperti cecak diyakini memiliki kekuatan dan kepekaan pada getaran-getaran spiritual. Jajan Saraswati yang berisi gambar cecak memberi pelajaran bahwa ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi mengembangkan kekuatan ratio atau pikiran saja, tetapi harus mampu mendorong manusia untuk memiliki kepekaan intuisi sehingga dapat menangkap getaran-getaran rohani.

Dalam lontar Saraswati juga memakai daun beringin. Daun beringin adalah lambang kelanggengan atau keabadian serta pengayoman. Ini berarti ilmu pengetahuan itu bermaksud mengantarkan kepada kehidupan yang kekal abadi. Ilmu pengetahuan juga berarti pengayoman.

Tentang Dewi Saraswati ada cerita menarik yang terdapat dalam Utara Kanda bagian dari epos Ramayana. Dalam cerita tersebut dikisahkan Dewi Saraswati bersemayam secara gaib di lidah Kumbakarna sehingga dunia terhindar dari kekacauan. Alkisah Resi Waisrawa beristri Dewi Kaikaisi. Pasangan Resi ini berputra empat orang, tiga orang laki dan seorang perempuan. Putra sang resi yang pertama bernama Dasa Muka (Rahwana), kedua Kumbakarna, ketiga bernama Dewi Surpanaka dan yang terkecil bernama Gunawan Wibhisana. Sang Resi menugaskan putra laki-lakinya supaya bertapa di gunung Gokarna. Ketiga putra Resi Waisrawa itu kemudian membangun tempat pertapaan yang terpisah-pisah di gunung Gokarna. Bertahun-tahun mereka bertapa dengan teguh dan tekunnya. Karena ketekunannya itu, lalu Dewa Brahma berkenan memberikan anugrah.

Pertama-tama Dewa Brahma mendatangi Rahwana. Dewa Brahma menanyakan tentang apa yang diharapkan dalam tapanya ini. Rahwama mengajukan permohonan dapat kiranya Dewa Brahma menganugrahkan kekuasaan di seluruh dunia. Semua dewa, gandarwa, manusia dan seluruh makhluk di dunia ini tunduk padanya. Permohonan Rahwana ini dikabulkan.

Selanjutnya Dewa Brahma menuju pertapaan Gunawan Wibhisana dan menyatakan pula akan memberikan anugrah atas tapanya. Gunawan Wibhisana menyampaikan permohonannya dapat kiranya Dewa Brahma memberikan anugrah berupa kesehatan dan ketenangan rohani, memiliki sifat-sifat utama dan taat melakukan pemujaan kepada Tuhan. Dewa Brahma mengabulkan permohonan Wibhisana. Begitu Dewa Brahma akan beranjak menuju pertapaan Kumbakarna para dewa berdatang sembah kepada Dewa Brahma. Para dewa memohon agar Dewa Brahma tidak menganugrahkan permohonan Kumbakarna. Pasalnya, Kumbakarna berbadan raksasa yang maha hebat. Kalau ia punya kesaktian, sungguh sangat membahayakan keselamatan manusia di dunia. Meskipun ada permohonan para dewa itu, Dewa Brahma bertekad memberikan anugrah. Sebab, jika tidak, Brahma merasa berlaku tidak adil kepada ketiga putra Resi Waisrawa. Apalagi Kumbakarna juga melakukan tapa yang tekun sehingga layak mendapat anugrah. Namun untuk memenuhi permohonan para dewa itu, Dewa Brahma punya akal. Istri atau saktinya yaitu Dewi Saraswati diutus supaya berstana di lidah Kumbakarna dan bertugas untuk membuat lidahnya salah ucap.

Setelah itu Dewa Brahma datang memberikan anugrah pada Kumbakarna. Kumbakarna memohon anugrah yakni agar selama hidupnya selalu senang. Karena itu ia semestinya mengucapkan "suka sada". Namun akibat Saraswati membelokkan lidah Kumbakarna, ucapan yang terlontar dari mulut raksasa tinggi besar itu adalah "supta sada" yang artinya selalu tidur. Suka artinya senang dan supta artinya tidur. Andaikata Kumbakarna mendapatkan anugrah hidup bersenang-senang, maka besar kemungkinannya ia selalu meng-humbar hawa nafsu. Raksasa yang menghumbar hawa nafsu tentu akan dapat mengacaukan kehidupan di dunia. Demikianlah peranan Dewi Saraswati, dengan kata-kata yang tersaring dalam lidah dapat menyelamatkan dunia dari kekacauan.

Di dalam kesusastraan Weda, Saraswati adalah nama sungai yang disebut Dewa Nadi artinya sungainya para dewa. Sungai Saraswati terletak di selatan daerah Brahmawarta atau Kuruksetra. Di sebelah utara Kuruksetra ada sungai bernama sungai Dasdwati. Kedua sungai itu diyakini berasal dari Indraloka. Karena itulah disebut Dewa Nadi. Keterangan ini juga diuraikan dalam Manawa Dharmasastra II,17. Karena itulah sungai Saraswati amat dihormati dalam puja mantra agama Hindu seperti dalam mantra Sapta Tirtha atau Sapta Gangga uang menyebutkan tujuh sungai utama di India. Tujuh sungai itu yaitu sungai Gangga, Saraswati, Shindu, Wipasa, Kausiki, Yamuna dan Serayu. Dalam mantram Surya Sewana, Saraswati dipuja pula dalam Catur Resi yaitu Sarwa Dewa, Sapta Resi, Sapta Pitara dan Saraswati.

Dewi Saraswati diyakini pula sebagai pemelihara kitab suci Weda. Hal ini diceritakan dalam Salya Parwa sebagai berikut. Di lembah sungai Saraswati, terdapat tujuh resi ahli Weda yaitu Resi Gautama, Bharadwaja, Wiswamitra, Yamadageni, Resi Wasistha, Kasiyapa dan Atri. Ketika musim kemarau datang, keadaan di lembah sungai Saraswati itu kering. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahan makanan pun menjadi sulit didapat. Karena keadaan alam yang gersang seperti itu, Sapta Resi itupun pindah ke tempat lain. Sedangkan putra Dewi Saraswati yang bernama Saraswata masih setia bertempat tinggal di lembah sungai Saraswati. Karena kesetiaannya tinggal di tempat itu, Saraswata mendapat perlindungan dari ibunya. Saraswata tetap mendapat bahan makanan dari lembah sungai itu. Para Resi yang meninggalkan lembah sungai Saraswati, lambat laun tidak tahan pada keadaan yang dialaminya. Karena di tempatnya yang baru, mereka sulit juga mengubah nasib. Lagi pula para resi tadi telah lupa pada isi Weda. Padahal, memahami Weda merupakan suatu kewajiban yang mutlak sebagai identitas seorang resi. Gelar resinya akan tanpa makna kalau sampai lupa pada isi Weda.

Keadaan itu menyebabkan sang Sapta Resi kembali ke lembah sungai Saraswati. Di lembah sungai Saraswati itulah para resi mohon kesediaan Dewi Saraswati membangkitkan kesadarannya untuk kembali dapat memahami isi Weda yang merupakan tugas pokoknya. Dewi Saraswati memberi anugrah apabila para resi bersedia menjadi siswanya. Para resi bertanya, apakah patut orang yang lebih tua berguru pada yang muda karena Dewi Saraswati masih sangat muda. Terhadap pertanyaan ini, Dewi Saraswati menjelaskan, seorang guru kerohanian tidaklah tergantung pada umurnya, kekayaannya, kebangsawanannya. Seorang guru kerohanian patut dilihat dari kemampuannya menguasai dan menyampaikan isi Weda. Kedewasaan spiritual Wedalah yang menjadi patokan utama. Penjelasan itu yang menyebabkan semua resi tetap berguru pada Dewi Saraswati.

Setelah kejadian itu, datang lagi enam puluh ribu orang menghadap Dewi Saraswati agar diterima sebagai murid karena ingin mendalami lautan rohani Weda. Lewat para resi dan siswa tadi, Dewi Saraswati mengidupkan dan menyebarkan isi Veda ke seluruh pelosok dunia.

Mitologi Dewi Saraswati dijelaskan pula dalam kitab Aiterya Brahmana. Dikisahkan seorang pendeta bernama Resi Kawasa keturunan Sudra Wangsa. Pada suatu hari, sang resi memimpin suatu upacara yajña. Karena resi itu keturunan Sudra Wangsa, maka sang resi dilarang memimpin upacara oleh pendeta dari Wangsa Brahmana. Sang resi Kawasa diusir dan dibuang ke padang pasir dengan tujuan agar ia mati di tengah-tengah padang pasir yang gersang itu. Setelah ia berada di tengah-tengah padang pasir, Resi Kawasa tetap melakukan pemujaan kepada Tuhan. Karena khusuknya pemujaan, turunlah Dewi Saraswati dengan penuh kasih sayang. Resi Kawasa pun diajarkan Weda mantra lengkap dengan Stuti dan Stotranya. Karena ketekunannya, semua pelajaran dari Dewi Saraswati dapat dikuasainya dengan baik. Kesucian dan kemampuan Resi Kawasa akhirnya jauh meningkat dari sebelumnya.

Dewi Saraswati menganggap, kemampuan Resi Kawasa sudah luar biasa. Sang resi pun diizinkan kembali ke tempatnya oleh Dewi Saraswati. Setelah ia sampai di tempatnya semula, pendeta dari Wangsa Brahmana itu amat kagum atas keberhasilan Resi Kawasa. Resi Kawasa memang mampu menujukkan kemahirannya tentang Weda baik teori maupun praktek kehidupan sehari-hari berupa tingkah laku yang bersusila tinggi. Akibat keutamaannya itu, Resi Kawasa diakui semua umat dan semua resi sebagai brahmana pendeta sejati.

Demikianlah kekuasaan Dewi Saraswati akan dapat memberikan peningkatan kesucian dan kehormatan kepada mereka yang memujanya dengan sungguh-sunguh.

Pada Hari Raya Saraswati Tentang bunga padma yang di Bali disebut bunga tunjung dipegang oleh salah satu tangan patung atau gambar Dewi Saraswati adalah memiliki lambang-lambang tersendiri. Di dalam Kakawin Saraswati disebutkan, bunga padma putih yang sedang kembang merupakan lambang jantung di Bhuana Alit. Padma merah ada dalam hati, padma biru ada dalam empedu. Budi suci sebagai aliran sungai Sindhu selalu meyakini kesuburan bunga-bunga padma yang berwarna-warni itu. Kecakapan bagaikan aliran sungai Narmada. Kemurnian hatiku sebagai sungai Gangga. Dewi Saraswati berstana di lidah dan Dewi Irawati berstana di mata. Demikianlah tujuan pemujaan Dewi Saraswati. Kalau tujuan pemujaan Dewi Saraswati dapat tercapai maka terhindarlah kita dari godaan penyakit, kelakuan jahat dan buruk.

Semua perumpamaan itu adalah suatu metoda seni sastra agama untuk mendatang kehalusan budi. Agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup, sedangkan seni menghaluskan hidup. Karena itulah, memuja Tuhan Yang Maha Esa menurut pandangan Hindu juga menggunakan aspek seni. Pemujaan kepada Dewi Saraswati tiada lain adalah memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspeknya sebagai sumber ilmu pengetahuan suci Weda. Menggapai kesucian Weda hendaknya juga melalui seni budaya yang indah. Khususnya yang didasarkan oleh keindahan seni itulah yang akan dapat dijadikan dasar untuk mencapai kesucian Sang Hyang Weda.


Hari Saraswati merupakan manifestasi Hyang Widhi sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan, Kekuatan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya ini dilambangkan dengan seorang Dewi, Dewi membawa alat musik, Genitri,, Pustaka suci, Teratai, serta duduk di atas angsa.

1. Dewi simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu indah, cantik, menarik, dan lemah lembut dan mulia
2. Alat musik simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu seni budaya yang agung
3. Genetri simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu tak terbatas dan kekal abadi
4. Pustaka suci simbol, bahwa itu sumber ilmu pengetahuan yang suci
5. Teretai simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan kesucian Hyang Widhi
6. Anga adalah simbol kebijaksanaan, Angsa bisa membedakan antara yang baik dan buruk.



Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai
Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning.
Pemujaan / permohonan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga.
  • Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
  • Sesudahnya dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram "Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami".
  • Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan).
  • Ambil beras kuning dengan mantram : "Om, kung kumara wijaya Om phat".
  • Masukkan kedalam sesangku.
  • Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:

Mantra
Artinya
Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi bhawantu sadam. Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan.
Om, Pranamya sarwa dewanca
para matma nama wanca.
rupa siddhi myaham.
Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia.
Om Padma patra wimalaksi
padma kesala warni
nityam nama Saraswat.
Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, kami selalu menjungjungMu Saraswati.

  • Sesudahnya bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya.
  • Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram:
    • Om, Saraswati sweta warna ya namah.
    • Om, Saraswati nila warna ya namah.
    • Om, Saraswati pita warna ya namah.
    • Om, Saraswati rakta warna ya namah.
    • Om, Saraswati wisma warna ya namah.
  • Kemudain dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati
  • Selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :
    • Sang Hyang Widhi (dalam maniftestasinya sebagai Çiwa Raditya).
    • Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa)
    • Dewi Saraswati.
  • Ucapkan mantra berikut:
Mantramnya
Artinya
Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah.
Om, rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha.
Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia.
Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja.
Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya. Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas.
Om, Saraswati namostu bhyam,
Warade kama rupini,
Siddha rastu karaksami,
Siddhi bhawantume sadam.
Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.

Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai berikut :

  • Meketis 3 kali dengan mantram:
    • Om, Budha maha pawitra ya namah.
    • Om, Dharma maha tirtha ya namah.
    • Om, Sanghyang maha toya ya namah.

  • Minum 3 kali dengan mantram:
    • Om, Brahma pawaka.
    • Om, Wisnu mrtta.
    • Om, Içwara Jnana.

  • Meraup 3 kali dengan mantram :
    • Om, Çiwa sampurna ya namah.
    • Om, Çiwa paripurna ya namah.
    • Om, Parama Çiwa suksma ya namah.

  • Terakhir melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan memohan agar diresapi oleh wiguna Saraswati
Setelah Saraswati puja selesai, biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati
Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.
Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:
  • Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.