EnglishFrenchGermanSpainItalianDutch RussianPortugueseJapaneseKorean ArabicChinese Simplified
Choose Your Language

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Sejarah Warga Pande di Bali



 Pande yang dimaksud disini pande dalam arti keturunan (clan), soroh dari seseorang yang dahulu leluhurnya mempunyai propesi sebagai ”memande” apakah memande itu membuat alat dari logam berupa perunggu ( gong, alat-alat keagamaan dan lain-lain), berupa besi ( cangkul pisau tombak keris dan lain-lain), berupa emas perak ( perhiasan, alat-alat keagamaan dan lain-lain) semua dapat digolongkan dalam istilah anggtandring dan angaluh. Memande adalah suatu pekerjaan yang hasilnya sangat diperlukan oleh seluluh lapisan masyarakat. Memande dan berdagang memang sudah digeluti oleh para pande sejak dahulu (wawancara,28 maret 2011).
Dasarnya warga pande tinggal disuatu tempat degan berkelompok. Tetapi begitu ditempat baru ( Desa yang membutuhkannya) mereka memecah diri untuk mengisi pande ditempat beru tersebut tetapi ikatan kekerabatan/leluhur menyatukan kembali mereka dalam adat keagamaan terutama pada hari raya tumpek landep.


 Pande Yang Ada Di Nusantara
Untuk menelusuri lebih jauh asal usul warga pande dimasa lalau kita berpedoman pada pembuktian archeologi yang menyangkut alat-alat yang dipakai manusia di masa lalu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah zaman batu yang disebut zaman neolithicum berakhir maka selanjutnya timbut zaman logam. Jaman ini dicirikan ditemukannya saat itu suatu bahan dari dalam tanah bijih logam yang diproses sedemikian rupa lalu mengasilkan barang-barang atau alat-alat penting untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Zaman logam dibagi menjadi tiga zaman yaitu zaman tembaga, zaman prunggu, zaman besi.
Pada zaman dahulu kaum pande diangap/digolongkan sebagai masyarakat tersendiri yang memiliki teknik dan kemampuan khusus sehinga banyak yang bergelar empu. Zaman dahulu hanya warga pande yang bisa membuat alat/barang dari logam sehinga keberadaan warga pande sezaman dengan mulainya zaman logam. Kapan zaman logam itu ada pada saat itulah ada kaum pande.
Menurut Dr. R Soekmono dalam bukunya yang berjudul ”sejarah kebudayaan Indonesia I ” menyatakan kebudayaan logam itu berasal dari luar Asia Tenggara. Berarti bila kaum pande memakai sistim keturunan purusa maka dapat dipastikan kaum warga pande  berasal dari luar Asia Tenggara. Mereka berasal dari satu keluarga yang menemukan teknik pengolahan logam menjadi alat-alat keperluan manusia  lalu seluruh keluarganya turun temurun menjadi pande. Kebudayaan logam di Indonesia memang termasuk satu golongan dengan kebudayaan logam Asia yang berpusat di Dongson.
Kaum pande yang berpropesi mengolah logam tersebut sebelum menyebar di bumi Nusantara. Mereka sebagain besar mereka bermukim di Dongson ( Teluk Tongkin) memande alat-alat yang bahannya dari perunggu maupun dari besi. Mereka bermukim di Dongson ini mulai kurang lebih 300 tahun SM. Jadi pande yang bermukim di Teluk Tongkin adalah cikal bakal pande yang datang kenusantara kemudian. Mereka berasal dari satu keluarga yang kemudian berkembang menjadi clan pande. Perpindahan mereka ke Nusantara adalah pada zaman perunggu ± 2500 tahun SM bersama dengan kelompok penduduk lain yang lebih besar.
Warga Pande Di Bali
Kedatangan para pande di Bali seiring kedatangan para penguasa yang datang dari seberang/luar pulau Bali. Sejarah menyatakan bahwa pada abad-abad VII-VIII M di Bali dikuasai oleh raja-raja dari dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram (Jawa Tengah). Tetapi jauh sebelum itu pengingalan-peningalan arkeologi membuktikan di pulau Bali dihuni oleh para pande yang hidup dalam masyarakat pada zaman itu (zaman Bali mula).
Pada zaman prasejarah di Bali masyarakat mengeal peti dari batu yang bernama sarkopagus yang digunakan untuk menyimpan mayat orang yang semasa hidupnya yang sangat berpengaruh. Ini membuktikan bahwa alat-alat yang dipakai untuk membuat sarkopagus tersebut adalah buatan para pande yang telah menghuni pulau bali pada zaman prasejarah yaitu pada zaman pra Hindu.
Desa Trunyan Kintamani sebagai desa tua yang keberadaanya diyakini paling tua di Bali telah hidup pada zaman megalitik yaitu jauh sebelum masehi dan juah sebelum kedatangan Hindu di Bali mereka memiliki kepercayaan bahwa Dewa tertinggi mereka bernama Ratu Sakti Pancering jagat juga disebut Da Tonta. Dewa ini bukan dewa dalam agama Hindu, beliau adalah leluhur/kawitan orang Desa Trunyan yang paling dimulikan. Di Pura tempat Da Tonta disemayamkan pada sebuah pelingih yang disebut Pura Dewa Pande. Rupaya pada zaman pra Hindu telah ada para pande di Desa Trunyan meskipun sekarang ini  di Desa Trunyan tidak ada warga pandenya lagi (Nyoman Wista Darmada (pande Nongan) dan Made Gede Sutama (Pande Celuk), 1996: 17).
Sekitar awal abad VI Masehi telah datang ke Bali Rsi Markandea penyebar agama Hindu yang membawa sejumalah pekerja. Beliau juga membawa warga pande dari Jawa. Para warga pande yang dibawa oleh Rsi Markandeya kemudian bermukim disekirtar daerah Desa Taro. Sekitar Danau Batur, Danau Tamblingan dan Besakih ( zaman Bali Age). Kemudian pada abad VI Masehi datang lagi ke Bali salah seorang  agama Hindu bernama Sri Agni Jaya Sakti salah seorang pengikut Sang Aji Saka. Beliau beraliran Brahmana dan kedatangannya ke Bali bersama-sama pendeta Siwa dan Budha.
Ajaran agama Hindu yang diajarkan oleh Sri Angi Jaya Sakti mengajarkan agama kepada masyarakat sekitar adalah agama Hindu yang beraliran Brahmana. Ajaran – ajaran beliau antara lain terntang:
a)      Prihal membuat senjata yaitu tombak keris dan mantram-mantramnya
b)      Prihal memilih baik buruknya senjata tombak dam keris yang disebut ”carcaning keris”.
c)      Prihal pakaian perang serta mantram-mantramnya serta tulisan-tulisan yang diangap bertuah.
d)     Prihal siasat perang.
Dari keempat ajaran tersebut diatas yang dibawa Sri Angi Jaya Sakti . ajaran pertama dan ke dua sangat berkaiatan dengan keahlian/propesi pande. Hanya pande yang memiliki mantram dalam pembuatan senjata dan hanya pande yang mengerti dan menghayati carcaning keris. Ajaran ketiga dan keempat sangat terkait dengan ajaran pertama dan kedua dimana dihendaki peningkatan persepsi tentang cara mempermainkan perang sebagai seorang prajurit atau pengatur siasat perang dari seorang pande. Tidak salah cerita orang terdahulu bahwa warga pande selau berada dimuka sebagai pemuka dalam peperangan karena dia tahu siasat menghayati arti pusaka degan segala isinya (pasupatii).`
 Pande Bang
Pada zaman ini para pande yang datangnya bersama Sri Kesari Warmadewa berasal dari Indonesia berdiam berkelompok di empat tempat. Yaitu:
  1. kelompok pande yang berdiam di daerah Besakih dan sekitarnya.
  2. kelompok pande yang berdiam disekitar daerah Renon (badung) dan sekitarnya.
  3. kelompok pande yang mendiami pingiran Danau Tamblingan.
  4. kelompok pande yang tingal dipejeng.
Dari keempat tempat pande yang bermukim di Danau Tamblingan mendapat perlakuan istimewa karena jenis barang yang mereka hasilkan bersifat istimewa serta skill/kepandaiannya yang mereka sangal unggul. Ada keistimewaan lain pada mereka yaitu mereka dibebaskan dari segala pajak yang mestiya harus dibayar oleh penduduk.
Terpecahnya warga pande yang bermukim  di Danau tamblingan karena pada saat itu Raja Sri Tapolung yang bergelar ”Bhatara Cri Asta Asura Ratna Bumi Banten” menyatakan dirinya tidak lagi tunduk kepada kekuasaan Raja Jawa ( Majapahit ). Sehingga raja majapahit menghukum atas sikapnya, Raja Majapahit Sri Hayam Wuruk mengirim pasukan untuk menyerang Bali. Sasaran utamanya adalah warga Pande yang ada di Danau Tamblingan karena diangap senjata-senjata penguasa Sri Tapolung berada di daerah ini. Penduduk lainnya yang berada dipingiran Danau Tamblingan ikut melahirkan diri dan kebanyakan dari mereka menyembuyikan diri ke hutan sebelah barat danau (daerah Gobleg).
Penguasa Bali kemudian setelah Sri Tapolung yaitu Dalem Semara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir) yang memerintah Bali dari istananya di Gelgel merasa perlu untuk memanggil kembali para pande yang telah lari meningalkan danau Tamblingan agar kembali ke asalnya.
Demikianlah keadaan dari keempat kelompok pande Bang pada zaman Sri Kesari Warmadewa sampai zaman Pejeng. Keempat kelompok yang mengikuti Sri Kesari Warmadewa tersebut dinamakan pande bang termasuk didalam Pande Bangke Maong, alias Pande Tamblingan. Ada dolemik dalam masyarakat Bali setelah kehancuran kerajaan pejeng tentang nama Pande Bangke Maong. Julukan ini diberikan kepada kelompok pande yang kalah perang bahwa mereka mati nantinya mayatnya akan menjadi maong.
Demikian bencinya para penguasa baru kepada para pande sehinga nama Pande Bangke Maong menjadi momok/menakutkan bagi seluluh keluarga pande dan mereka menghindari dirinya disebut Pande Bangke maong. Penguasa akan membunuh pande yang benar-benar adalah keturunan Pande bangke Maong. Kemudian muncul semacam sanggahan halus dari para pande yang menyatakan bahwa pengucapan Pande Bangke Maong  sebenarnya adalah Pande Bang Kemaong (pande bang saja).
 Pande Pada Zaman Gelgel
Pada zaman Gelgel tersebut kedatangan warga pande ke Bali itu merupakan prajurit-prajurut dari majapahit yang bukan orang sembarangan seperti Empu Brahma Wisesa dan Empu Lelumang. Beliau orang-orang tersohor kesaktiannya serta mempunyai hubungan dekat dengan raja Majapahit. Dengan adanya ikatan kembali dengan raja Majapahit raja Dalem Semara Kepakisan saja Bali yang bertahta di Gelgel mulai mendapat simpati rakyat Bali agar tidak mengadakan pemberontakan dikemudian hari. Sebelumnya telah menjadi pemberontokan yaitu pemeberontakan Takawa tahun 1345 dan pemberontakan Makambika tauhun 1347( keduanya keluarga raja Pejeng). Sehinga mengambil keputusan oleh Dalem Semara Kepakisan sebagai berikut:
a)      Pura Besakih dijadiakn Pura kerajaan pusat seluruh Bali.
b)      Pura Dasar di Gelgel ditingkatkan statusnya menjadi Pura Kekerajaan yang sama statusnya dengan Pura Pusering Jagat pada zaman kerajaan Bedahulu.
c)      Kaum Pasek Bendesa turunan Bali asli memegang kekuasaan di tiap-tiap daerah dan kahyangan menjadi pembesar atau tabeng puri
d)     Kauam Pande (turunan Bali asli) yang mahir dalam pembuatan senjata menjadikan pembesar dan mengepalai alat-alat besi.
Para pande juga akan pindah ke tempat atau Desa baru yang belum ada pandenya. kadang-kadang atas kehendak mereka sendiri atau atas perintah penguasa. Demikian seterusnya sehinga akhirnya sukar bagai kita membedakan pertalian anatra pande-pande yang berbeda masa kedatangannya ke Bali.
Diceritakan dalam prasasti/babad bagaimana situasai kondisi pada saat pemerintahan Dalem Bekung semua penduduk kota kerajaan Gegel terpecah belah terutama keturuanan Majapahit. Akibat keikutsertaan para pande di Klungkung memberontak pada Raja akhirnya Pura Dalem Tusan ( Pura Pande yang dibuatkan Dalem Gelgel untuk Sentana Sire Tusan) lama tidak terurus, para pande tidak berani ngaturang piodalan karena situasi kerajaan yang sangat genting. Sewaktu-waktu para pande dapat terbunuh ketika akan ke Pura  atau bisa sewaktu sehabis sembahyang.
Masalah  warga pande ketika Ida Dalem berada dalam liputan Ida Sang Hyang Sengara (penasehatnya). pada saat itu juga Sire Pande seluruhnya baik, besar, kecil, tua, muda biar bayi sekalipun ikut dibunuh. Sunguh amat teragisnya tidak keprimanusiaan tetapi Tuhan tidaklah membiarkan umatnya dibegitukan, maka ada satu orang pande yang berada di bawah menguasaan Ida Sang Hyang Ibu yang disembunyikan Oleh Djangga Wadita di bawah air terjun ( bantang matiyem).

Kasta Pande Tidak Boleh Memakan Be Jeleg (Jangga Wadita)

Kasta Pande Tidak Boleh Memakan Be Jeleg 
(Jangga Wadita) 
 Pada tahun 1556 Masehi, ketika terjadi pembrontakan atas pemerintahan Dalem Bekung yang dilakukan oleh Arya Batan Jeruk ( keturunan arya kepakisan ) sehingga Arya Batan dianggap Angesti Muji Dadia Sang Prabu. ( bercita2 ingin menjadi Raja ). Akhirnya Arya Batan Jeruk tewas setelah di kejar sampai Bonganya, Karang Asem. Pembrontakan selanjutnya dilakukan oleh Kyayi Pande Bhasa, yang terlibat pembrontakan ini Dalah Keluarga Pande Capung yang didukung keluarga besar.
Kerajaan Gelgel terpecah belah terutama keturunan Majapahit. Mereka menegaskan jati diri, karena ada unsur saling curiga. Para pasek dan Pande mebantu penguasa yang dekat sama mereka. Kasta Pande adalah salah satu kasta yang memiliki kelebihan mengolah besi untuk dijadikan keris atau pedang. Banyak orang yang mempercayai keris buatan kasta Pande memiliki keunikan tersendiri. Pada zaman itu, tidak hanya kasta Pande saja yang pintar membuat keris, membuat keris merupakan ajang persaingan untuk menarik para konsumen. Konon katanya jika orang yang berkasta Pande bertempur dengan pesaingnya, keris yang digunakan itu  tidak sampai menancap ketubuh lawannya, tetapi  keris hanya dibuka dan dipegang(ngungkulin) pesaingnya sudah tewas.
 Ketika pembrontakan dapat di padamkan yang memihak raja tetap tinggal di Gelgel dan yang memihak para pemberontak mengungsi dan menyelamatkan diri, karena keterlibatan para pande terutama di Klungkung. Sewaktu-waktu para pande dapat terbunuh. Sang Bhagawan sebagai penasehat Raja bercerita kepada Raja bahwa penyebab kekacauan yang merajarela adalah Sire Pande. Menurut Bhagawan, Sire Pande yang membuat senjata ke sana ke mari dan meyakinkan raja bahwa Sire Pande menyebabkan hal itu dan menyarankan membunuh semua Sire Pande sampai habis karena jadi biang keladi. Ida Dalem menerima saran dari Sang Bhagawan dan memerintahkan membunuh seluruh warga Pande baik yang kecil, bayi, muda, tua tanpa pri kemanusiaan.
Tetapi atas perlidungan Ida Ratu Bagus Pande ada seorang warga Pande masih hidup. Warga pande itu dilindungi dan di sembunyikan oleh Jangga Wadita ( be jeleg ) di bawah air terjun, di Sawah Gambangan. Orang yang memburu kasta Pande itu berpikir tidak mungkin kasta Pande bersembunyi di telaga itu. Ikan yang ada  di telaga itu tidak beranjak pergi.  Jika air terjun ini menjadi persembunyian kasta Pande sudah  pasti ikan Gabus yang mengambang di telaga ini akan pergi, dan gelombang airpun tidak ada sama sekali. Dengan mengalami kejadian itu kasta Pande bersumpah sampai keturunannya tidak akan memakan ikan Gabus. Oleh karena itu, Pura Gande Mayu yang ada di Klungkung, kasta Pande dan Ida Bagus menjadi satu Pemedalan. Hanya dibatasi dengan tembok penyengker Pura.

Minggu, 13 November 2011

Mitologi Wuku (Sinta-Watugunung)

 
Berdasarkan lontar Medangkamulan diceritakan
kelahiran wuku seperti dibawah ini. Tersebutlah ada raja yang banyaknya 27
orang yaitu Raja Giriswara memerintah di Gunung Emalaya, Raja Kuladewa di
Pasutranu. Raja Talu memerintah di Winekatalu. Raja Mrebuana di Marga Wisaya.
Raja Waksaya di Bragu. Juga ada Raja Wariwisaya di Waragadiaswara. Raja
Mrikjulung memerintah di Sekar Kencana, Raja Sungsangtaya di Sagraya. Ada lagi
yang lainnya yaitu Raja Dungulan bertahta di Tanpasabda. Raja Puspita di Jena.
Raja Langkir di Langkaraya. Raja Medangsu di Medangpat. Raja Pujitwa di
Pujiwisaya. Raja Paha di Pangkurian. Raja Kruru di Ruruksa. Raja Mrangsinga
memerintah di Mrasuminggah. Raja
Tambur memerintah di Kawi. Ada lagi  Raja
Medangkusa memerintah di Kusinagara.Raja Matal memerintah di Matala. Raja Uye
di Padengenan. Raja Ijala di Wirajala. Raja Yuda di Prangwija. Raja Baliraja
memerintah di Ladikara. Raja Wiugah di Gandawiran. Raja Ringgita di Apsari.Raja
Kulawudra bertahta di Kalasumihang. Raja Sasawi di Tresawit.
 
Diceritakan lagi bernama Dang Hyang Kulagiri,
mempunyai istri dua orang, istri yang pertama namanya Dewi Sintakasih, putra
dari bhagawan Gadiswara, istri yang kedua namanya Dewi Sanjiwartia, pura Dang
Hyang Pasupati, kedua putri ini menjadi Raja di Kundadwipa.
 
Setelah lama bersuami istri, lalu Dang Hyang
Kulagiri berkata kepada istri keduanya, menyampaikan bahwa beliau segera akan
pergi ke Gunung sumeru bertapa, juga mengingatkan supaya permaisurinya
baik-baik saja tinggal di kraton selama beliau pergi. Istri beliau berdua
menyetujui.
 
Tak diceritakan keadaan sang raja bertapa sudah
cukup lama sekarang diceritakan Dewi Sintakasih sudah hamil tua. Dewi Sintaksih
bercakap-cakap dengan Dewi Sanjiwartia, memperbincangkan sang raja belum
datang. Akhirnya dalam percakapan itu diputuskan akan mencari suaminya ke
gunung Sumeru (tempat sang raja bertapa).
 
Tersebutlah kedua istri sang raja berangkat dari
kraton, menuju tempat suaminya bertapa, sampailah perjalanan beliau pada lereng
Gunung Sumeru, Dewi Sintakasih sakit perutnya makin lama makin sakit sebagai
tanda akan melahirkan. Duduklah Dewi Sintakasih di atas batu yang datar dan
lebar, melepaskan lelahnya sampil menahan rasa sakit perutnya tetapi sayang
tidak tertahan saat itu juga Desi Sintakasih melahirkan bayi laki-laki.
Pecahlah batu tersebut karena tertimpa badan si bayi.
 
Setelah hal tersebut terjadi gelisah dan
berdukacitalah Dewi Sintakasih bersama Dewi Sanjiwartia. Saat itu pula turunlah
Ida Hyang Padmayoni, bertanya kepada para putri itu, apa sebabnya mereka
bersedih. Sang Dewi menghormat sambil berkata: “Ya, yang terhormat batara,
hambamu ini ditinggal oleh suami bertapa di lereng Gunung Sumeru, sejak hamba
baru mulai hamil hingga sekarang. Sampai kelahiran putra hamba ini belum juga
beliau datan (kembali), itulah sebabnya hambamu ini bersedih hati”. Demikianlah
kata kedua putri itu menghormat kehadapan Dewa Brahma.
 
Dewa Brahma setelah mendengar cerita kedua putri
tersebut beliau sangat bahagia dan mendoakan supaya bayi itu panjang umur
terkenal di dunia serta diberikan anugerah yang hebat tidak terbunuh oleh para
dewa, danawa, detya, manusia tak terbunuh pada malam hari maupun pada siang
hari, tidak mati dibawah maupun di atas, tidak terbunuh oleh senjata. Kecuali
yang dapat membunuhnya adalah Dewa Wisnu. “ Karena bayimu lahir di atas batu,
aku anugrahi nama I Watugunung”. Demikianlah sabda Dewa Brahma. Sang Dewi
keduanya menghormat dan menghaturkan terima kasih. Kemudian gaiblah Dewa Brahma
kembali ke Kahyangan yang disebut Brahma Loka.
 
Ketika lenyapnya Dewa Brahma, sang dewi keduanya
ke kraton dengan memangku seorang putra. Tersebutlah bayi itu mengalami
pertumbuhan yang amat cepat, sampai-sampai ibunya mearasa kewalahan meladeni
bayinya untuk memberi makan karena bayinya makan amat kuat. Heranlah kedua
permaisuri itu melihat putranya demikian hebatnya makan, kadang-kadang satu
kali masak atau satu periuk dihabiskan dalam sekali makan tanpa ada sisanya.
Makin hari makin bertambahlah kesibukan ibunya untuk meladeni putranya yang
luar biasa itu. Sampai-sampai
merasa kewalahan untuk memberi makan dan selalu menuntut untuk makan.
 
Tersebutlah pada suatu hari ibuny sedang memasak
di dapur, datanglah sang Watugunung mendekati ibunya seraya minta nasi untuk
dimakan. Ibunya berkata : ”Anakku bersabarlah menunggu sementara ini nasinya
belum masak”.
 
Demikian kata ibunya tetapi sang  Watugunung tidak menghiraukan dan melahan
mendesak supaya cepat-cepat memberikan nasi karena perutnya sudah lapar. Karena
tidak tahan ketika itu pula sang Watugunung mengambil dengan sendiri tanpa
bantuan ibunya, dan langsung nasi yang sedang dimasak itu disantapnya sampai
habis tidak menghiraukan sudah matang atau belum, pendeknya dalam keadaan masih
panas sudah dihabiskan.
 
Melihat perilaku putranya demikian sangat tidak
sopan, ibunya menjadi naik pitam dan mengambil sodo (siut) langsung memukul
putranya tepat di kepalanya sampai berlumjuran darah, sang Watugunung menangis
terisak-isak menahan luka yang dideritanya. Ketika sakit dari lukanya sudah
agak reda Watugunung meninggalkan kraton karena saking marahnya menuju gunung
Emalaya. Dalam perjalanan
sang Watugunung berbuat seenaknya saja terual makanan, merampok terutama dalam
hal makanan, merampok makanan rakyat dan langsung dimakannya.
 
Penduduk di sekitar lereng Gunung Emalaya merasa
sangat heran melihat perilaku anak kecil itu yang serba berani, memaksa makanan
dari penduduk. Hal ini sangat mengganggu kesejahteraan dankeamanan penduduk. 
Karena penduduk merasa kewalahan untuk mengahadapi
tingkah polah anak itu, akhirnya masalahnya dilaporkan kepada raja Giriswara.
Mendengar laporan itu sang raja merasa terkejut, dan naik darah seketika itu
juga memerintahkan rakyatnya untuk membunuh Watugunung.
 
Setelah mendengar keputusan raja seluruh lapisan
kekuatan daerah itu menyerang sang Watugunung dengan merebutnya dan memukul
dengan bermacam-macam senjata, serangan datang dari segala sudut yang kesemuanya
tertuju ke badan sang Watugunung. Tetapi sayang seluruh serangan dan seluruh
senjata penyerang tidak ada yang mempan. Sang Watugunung sedikit pun tidak ada
yang cidera. Sang Watugunung terus mengadakan aksinya dengan mengobrak-abrik
yang menyerangnya, mengahancurkan kelompok penyerang yang hebat itu.
 
Sehingga pasukan penduduk Emalaya lari
terbirit-birit untuk menyelamatkan jiwanya dari kepungan Watugunung. Sang Raja
sangat marah mengetahui keadaan rakyatnya dihancurkan oleh Watugunung. Raja
Girisrawa dengan hati yang membara turun ke medan perang dengan persenjataan
yang lengkap untuk menghadapi sang Watugunung. Maka terjadilah perang tanding
antara raja Giriswara dengan Watugunung, yang sama-sama hebat dan sakti dalam
peperangan itu. Perang tanding itu berlangsung 7 (tujuh) hari. Dan pada
akhirnya Raja Giriswara dapat dikalahkan oleh sang Watugunung, sehingga raja
Giriswara tunduk dan menghormat kepada sang Watugunung, mengenai kekalahan
kerajaan Emalaya sampai di sini.
 
Tersebutlah sang Watugunung melanjutkan serangan
mengarah ke kerajaan Pasutranu yang rajanya bernama Prabu Kuladewa.karena
serangan yang dilakukan Watugunung rakyat Kuladewa tidak tinggal diam, maka
terjadilah pertempuran yang tidak kurang dasyatnya dengan pertempuran di
kerajaan Girisrawa. Rakyat Kuladewa kewalahan menghadapi serangan Watugunung
yang hebat itu. Akhirnya mereka lari tunggang langgang meneyelamatkan jiwanya
masing-masing. Namun akhirnya sampai raja Kuladewa dapat dikalahkan, dan tunduk
kepada Watugunung.
 
Sang Watugunung melanjutkan serangannya kepada
raja Talu, raja Mrabuana, raja Wariksaya, raja Pariwisaya, raja Julung, raja
Sunsang dan yang lainnya dengan mudah dapat ditundukkan. Keseluruhan dari 
kerajaan yang dikalahkan
berjumlah 27 kerajaan dan sampai semua  
Rajanya tunduk kepada sang Watugunung. Tak
ketinggalan juga rakyat beserta daerahnya menjadi jajahan sang Watugunung.
 
Kesaktian ini diperolehnya pada saat lahirnya di
kaki Gunung Sumeru dari Sang Hyang Padmayoni. Selama 150 tahun sang Watugunung
memerintah daerah jajahannya.
 
Dalam pemerintahannya itu beliau selalu menanyakan
kepada raja-raja taklukannya. Katanya : ”Hai para raja apakah ada raja yang
hebat lagi yang belum aku tundukkan?”. para raja pun menjawab ” Daulat tuanku
maha raja Girisila Emalaya, masih ada dua orang raja lagi yang belum tuanku
tundukkan yaitu keduanya perempuan yang amat rupawan bertahta di negara
Kundadwipa yang sangat diagungkanoleh rakyatnya dan dihormatinya. Jika tuanku 
dapat mengalahkannya kedua
raja itu sangat patut untuk dijadikan permaisuri tuanku raja. Demikianlah
jawaban dari raja-raja yang didengar keterangannya. Dan raja Girisila
membenarkan.
 
Setelah mendengar keterangan dari  para raja itu, maharaja Girisila
memerintahkan kepada rakyatnya supaya mempersiapkan diri lengkap dengan
persenjataan guna menyerang kerajaan Kundadwipa. Rencana ini didengar oleh
kerajaan Kundadwipa maka dari itu rakyat Kundadwipa bersiap-siap untuk
menyambut tamu yang tak diundang itu, tidak ketinggalan pula dengan
persenjataan yang memadai.dan pada saat terjadinya pertempuran yang sengit,
seram sampai aliran darah dari para korban menganak sungai. Sama-sama perwira
sama-sama gagah berani tidak ada yang mau menyerah pantang mundur. Korban dari 
kedua belah pihak makin banak,
korban jiwa korban harta dan yang lain-lainnya. Setelah pertempuran berlangsung
yang menderita kekalahan adalah di pihak Kundadwipa.Maka kedua raja perempuan 
itu dikawini, karena lupa padahal itu adalah
ibunya sendiri.
 
Pada suatu saat setelah lama bersuami istri, sang
Watugunung menyuruh kedua permaisurinya untuk mencari kutu di kepala suaminya.
Sedang asyiknya pekerjaan memburu kutu itu dilakukan terjadilah gempa bumi, 
hujan
dengan lebatnya disertai angin dan disambung oleh petir yang mengguntur di
langit. Melihat tanda-tanda itu para dewa sangat khawatir kejadian apakah yang
bakal terjadi selanjutnya. Maka sekalian dewa menghadap dewa Siwa. ”Haturnya
yang mulia batara Siwa apakah sebabnya terjadi gerakan-gerakan alam yang hebat
seperti sekarang ini? Kemungkinan besar ada manusia yang berbuat tidak sesuai
dengan perikemanusiaan, tidak sesuai dengan tata susila, membenarkan yang tidak
benar berlaku seperti binatang”. Mendengarkan keterangan Dewa seperti itu, Dewa
Siwa segera memanggil pendeta para dewa yaitu Bhagawan Narada(Rsi Priarana)
supaya menyelidiki perbuatan manusia di dunia yang menyebabkan gerak alam yang
dasyat ini. Dang Hyang Narada segera turun untuk menyelidiki perbuatan manusia
di dunia ini. Diketahuilah sang Watugunung sedang asyiknya berkutu dengan kedua
istrinya. Dengan segera Dang Hyang Narada kembali ke Siwa Loka. Melaporkan
kejadian itu kepada Dewa Siwa. Kata beliau ”Yang mulia Dewa Siwa kami datang
dari dunia melaporkan hasil dari penyelidikan yang kami lakukan dengan sangat
teliti ternyata memang memang ada manusia berbuat yang tidak memenuhi tata
susila kemanusiaan yaitu sang Watugunung mengambil kedua ibunya dipakai istri
(dipakai permasuri). Hal yang demikianlah sangat tidak tepat dilakukan oleh
manusia”.
 
Mendengar laporan yang sangat meyakinkan itu Sang
Hyang Sahasra menjadi naik pitam dan menjatuhkan kutukan yang ditujukan kepada
sang Watugunung, sabda beliau : ”Hai kau sang Watugunung semoga engkau mati
dibunuh Sang Hyang Narayana (Dewa Wisnu) karena perbuatan yang sangat dursila
itu yaitu mengambil ibu kandung dipakai sebagai permaisuri (memperistri ibu
kandung), mengambil ”babu sodaran,, mengambil tumin temen, kewaulan, babu
dimisan, keponakan ring nyama, rerama ringmisan, suta sodaran dan cucu”. Semua
yang tersebut di atas tidak boleh dijadikan istri. Jika ada manusia yang
melakukan hal itu, patut dibuang ke laut, dan jiwanya supaya disiksa oleh
rakyat batara Yama pada alam neraka. Apabila kelak menjelma agar dalam
kehidupannya itu selamanya menderita kesengsaraan”. Demikian kutuk Sang Hyang
Tri Purusa.
 
Tersebutlah pada suatu hari sang Watugunung
melakukan pemburuan kutu yang dilakukan oleh kedua istrinya pada atau di atas
kepala sang Watugunung yang besar itu. Saat asyiknya mencari kutu sambil
menggaruk-garuk kepada maha raja, ketika melipat-lipat rambut yang kurang
teratur itu kedua istrinya tercengang seketika, karena melihat bekas luka pada
kepala yang sedang dielus-elusnya itu. Maka teringatlah beliau dengan
perbuatannya yang terdahulu yaitu memukul kepala putrany dengan sodo (siut)
sehingga menimbulkan luka di kepala putranya demikian pertimbangan di dalam
hati, beliau tidak dapat berbuat apa-apa hanya diam tercengang, bahwa yang
dipakai suami adalah putranya sendiri. Karena kedua pasang tangan istrinya
menjadi agak lemas dan percakapan kecil seketika menjadi hening. Dalam
keheningan itu sang Watugunung bertanya kepada kedua permaisurinya: ”Hai adinda
kenapa diam seketika apa yang menyebabkan coba jelaskan supaya kakanda
mengetahui hal itu”. Pertanyaan itu lama tidak dijawab karena dadanya merasa
sesak, akhirnya menjawab : ”Ampun tuanku raja, adapun yang menyebabkan kami
berdiam karena karena kami ngerempini (ngidam)”.
 
Sang Watugunung balik bertanya:
”Bagaimana adinda mengidam?”. Apa yang adinda idamkan katakanlah! :Kakanda yang
terhormat, kami mengingini seorang pembantu yang tidak boleh lain daripada
permaisuri Sang Hyang Wisnu”, demikianlah permaisuri beliau menjawab. “Sangat
sayang aku tidak mengetahui tempat Sang Hyang Wisnu, apakah dinda berdua
mengetahuinya?” Oh tempat Sang Hyang Wisnu ada di bawah tanah”. Ya kalau
demikian kanda bersedia untuk mencarinya”.
 
Sang Watugunung mulai memusatkan
pikirannya (angrana sika) dengan mantap, sehingga dengan kekuatan batinnya
tanah (bumi) ini pecah sampai pada lapis yang ketujuh. Sang Watugunung turun ke
lapis tanah yang ketujuh sampai di sana disambut oleh Aribuana: Ah-ahih-ih apa
maksud kedatanganmu?” mohon dijelaskan. Sang Watugunung menjawab: “Aum Batara,
adapun kedatanganku kemari, sebab berita yang kudengar di dunia, bahwa Batara
adalah yang amat pengasih, apa saja yang diminta oleh manusia Batara izinkan”.
Apa yang kau sebutkan itu memang benar” jawab Sang Hyang Wisnu.
 
Kalau memang benar hal tersebut
sekarang permintaanku adalah, jika engkau memang mencintai diriku, saya mohon
permaisuri Hyang Wisnu bagaimana engkau izinkan bukan, katakanlah segera” Sang
Hyang Wisnu segera menjawab”  “Oh
permintaanmu bukan perilaku manusia, permintaanmu tidak benar, tidak boleh
meminta istriku cobalah minta yang lainnya, tentu aku akan penuhi, kehebatan,
senjata dan lain-lainnya”.
 
“Jika demikian halnya Dewa Wisnu
berbohong tidak menepati (tidak setia) kepada ucapan namanya, oh janganlah
mengaku pada sadhu dharma (beriman dan saleh), kamu berikan atau tidak, kalau
kamu berikan istrimu engkau selamat, kalau tidak engkau izinkan berbahayalah
engkau”. Sang Watugunung sangat marah.
 
“Aum, seperti apa yang kamu katakan,
kalau aku tidak izinkan, bagaimana kehendakmu cobalah bilang”. 
 
“Kalau Batara tidak izinkan, marilah segera kita
berperang. Apakah kamu berani? katakan” Bertambah-tambah marahlah sang
Watugunung, kata-katanya kasar. Demikian pula Hyang Wisnu (sangat marah) segera
menjawab: kalau benar seperti apa yang kamu katakan, aku betul-betul tidak
memenuhi permintaan, karena apa yang kamu katakan hal itu tidak benar (tidak
wajar)”. 
 
Ketika itu sang Watugunung sangat marah, demikian
pula Sang Hyang Ari, maka terjadilah pertempuran yang amat dasyat saling kejar
mengejar, tusuk menusuk, pukul memukul dengan garangnya. Tujuh puluh yuga
lamanya Sang Hyang Wisnu berperang melawan sang Watugunung, seribu kepalanya,
dua ribu tangannya, dua ribu kakinya, matanya seperti bintang, amat menakutkan,
rupanya seperti api berkobar-kobar menyala. Sang Hyang Wisnu juga memurti
(membesar wujutnya) beliau berupa kurma, berlidah cakra, bertaring tajam
(suligi), atau (berbelai) bajra yang amat utama, amat dasyat wujut kura-kura
itu, besar badannya. Karena sang Watugunung tidak dapat dikalahkan oleh dewa,
tidak terkalahkan oleh manusia, tak dikalahkan oleh bhuta, pisaca, tidak mati
dibawah dan di atas, tidak mati oleh raksasa dan detya yaksa sura.
 
Setelah Sang Hyang Wisnu berwujud Badwang (Kurma),
yang amat menakutkan, barulah beliau berperang. Bagaikan gelombang laut yang
murka, bergetarlah dunia ini, sehingga menyebabkan para dewa sibuk bertanya.
Sang Hyang Siwa pun berkata kepada para dewa: ”Hai anakku semua, apakah kiranya
yang terjadi sehingga terjadi getaran-getaran yang hebat”. Coba katakan!
 
Bhagawan Narada menjawab: ”Seperti apa yang batara
katakan, hal itu terjadi karena ada manusia yang congkak berbuat yang tidak
wajar, tidak lain manusia itu adalah si Watugunung, minta permaisuri dari Sang
Hyang Wisnu, itulah yang menyebabkan terjadinya pertempuran, karena perbuatan
si Watugunung amat berdosa.
 
Mendengar laporan Hyang Narada demikian, lalu sang
Watugunung dikutuk oleh Batara Sangkara. ”Jah tah smat, semoga si Watugunung
mati, karena perilakunya yang amat berdosa mau memperistri dari salah seorang
dewa, terus-menerus sampai pada penjelmaan kelak kemudian hari terbunuh oleh
kebesaran Hyang Ari” demikianlah kutuk Sang Hyang Sangkara.
 
Tersebutlah lagi pertempuran Sang Hyang Ari
berhadapan dengan si Watugunung, lalu keluarlah api yang amat hebat dari kurma
perwujudan Hyang Wisnu, disemburlah si Watugunung, dibelit oleh bajra ditikam
dengan cakra. Akhirnya kalahlah sang Watugunung, tembus dadanya.
 
Berkatalah sang Watugunung: ”Ih Hyang Wisnu
sekarang matilah aku dengan marahnya lalu mengatakan, aku tidak akan
henti-hentinya bermusuhan dengan diriu, sampai kepada penjelmaanku yang ketujuh
aku tidak akan melupakan hal ini. Hyang Wisnu berkata: ”benar katamu itu,
tetapi dimanakah engkau akan menjelma? Katakanlah!
 
Sang Watugunung menjawab aku akan menjelma di
Lengka dengan nama Dasasia dan sebaliknya menanyakan kepada Hyang Wisnu di mana
akan menjelma nanti?
 
Hyang Aribuana menjawab (bersabda): ”Ih
Watugunung, kalau demikian katamu aku akan menjelma di Yodyapura; pada maharaja
Dasaratha dan setiap kali aku lahir, selalu dapat membunuh dirimu!” akhirnya
meninggallah sang Watugunung. Demikianlah diceritakan tentang sang Watugunung
yang termuat dalam lontar Medangkamulan lembar 1a – 9b.
 
Tentang cerita lahirnya Wuku yang pernah termuat
dalam majalah Bhagawanagara, disebut pula dipetik dari lontar Medan Kamulan
dengan jalan cerita yang agak berbeda seperti di bawah ini.
 
Tersebutlah setelah istri sang Watugunung keduanya minta permaisuri sang Hyang
Wisnu sebagai pembatunya (babu), dengan segera sang Watugunung mengutus sang
Warigadian ke Surga, membawa surat ke hadapan Hyang Ari. Setelah surat itu
dibawa, Hyang Wisnu amat marah dan segera menantang sang Watugunung untuk
bertempur.
 
Hal itu disampaikan oleh sang Warigadian yang
mengakibatkan sang Watugunung menjadi marah, segera memerintahkan memukul
kentongan, rakyatnya semua berkumpul lengkap dengan senjata, segera menyerbu ke
surga. Terjadilah pertempuran yang sangat dasyat bunuh membunuh antara kedua
pihak, sampai Sang Hyang Wisnu merasa tertekan karena serangan dari pasukan
Watugunung.
 
Diceritakan sang Watugunung sedang berada ditempat
tidur disertai oleh kedua orang permaisurinya.Istri sang Watugunung menanyakan
kejadian peperangan yang telah terjadi dan juga menanyakan hal tersebut sang
Watugunung berkata: ”Janganlah adikku berdua memberitahu kepada orang lain
(awywa wera), kesaktianku ini tidak akan dapat dikalahkan oleh para dewa,
bhuta, danawa, kala, raksasa, manusia.
 
Namun ada yang dapat mengalahkan, jika ada orang
sakti (nara wisesa) berwujud kurma (empas/badawang), berkuku yang kuat itulah
yang dapat membunuh diriku”. Tentang percakapan tersebut didengar oleh Bhagawan
Lumanglah yang sedang dalam keadaan berupa laba-laba. Bhagawan Lumanglang
segera kembali ke surga, menghadap Dewa Wisnu seraya memberitahukan keadaan
Watugunung.
 
Besok paginya sekitar pukul 9 (dawuh tiga),
Dewa Wisnu sudah berwujud kurma, berkepala seribu, kuku tanganya sangat panjang
dan sangat kuat, segera berangkat untuk bertempur melawan sang Watugunung. Saat
itu adalah Radite Kliwon, peperangan berlangsung sangat sengitnya. Sang
Watugunung dapat ditundukkan dan tergeletak di tanah (mrecapada). Itulah
sebabnya disebut”Watugunung mati terbunuh oleh Batara Wisnu, hari kematiannya
ini dinamai ”Candung Watang”.
 
Besoknya adalah hari Anggara Pahingnya
mayatnya ditarik-tarik oleh Sang Lumanglang, sehingga hari itu disebut hari
”paid-paidan”. Hari Buda Pon datanglah Bhagawan Buda, sang Watugunung
dihidupkan kembali, tetapi hanya satu dauh, kemudian dibunuh kembali oleh
Batara Wisnu, hari itu disebut Buda Urip.
 
Hari Wraspati datanglah Bhagawan Wraspati dengan
rasa kasihan benar kepada sang Watugunung, sehingga dihidupkan kembali tetapi
sebentar, kemudian dibunuh kembali oleh Hyang Wisnu, hari itu disebut Panetan.
Pada hari Jumat Kliwon, Hyang Siwa mengetahui bahwa sang Watugunung mati dan
turunlah beliau untuk menghidupkan kembali sang Watugunung, harinya disebut
dengan Pangredanan.
 
Saat itu datanglah Batara Wisnu hendak membunuhnya
kembali namun dapat dicegah oleh Batara Siwa, sabdanya: ”Hai anakku, janganlah 
hendaknya sang Watugunung dibunuh, biarkanlah
untuk hari-hari selanjutnya supaya diingat orang sebagai bahan pertimbangan
atau perbandingan.” Maka menjawablah sang Batara Wisnu, sabdanya: ”Yang
Watugunung amat besar dosanya, mengawini orang yang sudah bersuami dan
memperistri ibunya sendiri”. Dikemudian hari tidak boleh orang yang sudah
bersuami dan memperistri ibunya sendiri”. Batara Wisnu pun mengutuk sang
Watugunung, sabdanya: ”Tiap-tiap enam bulan engkau runtuh (jatuh). Jawaban sang
Watugunung: ”Baiklah hamba menuruti sabda tuanku, hamba mohon apabila hamba
jatuh di darat hendaknya turun hujan dan bila hamba jatuh di laut supaya hari
panas terik, agar hamba tidak kedinginan. Permohonan sang Watugunung semua
dikabulkan serta rakyat sang Watugunung serta pada Dewa yang menjadi korban
dalam pertempuran itu dihidupkan kembali.
 
Kiranya cerita yang serupa dengan ini juga ada di
daerah lain atau negara lain. Di Sunda (jawa barat) juga ada mitologi seperti
mitologi Watugunung di atas, yang dinamai Sangkuriang.
 
Demikian pula di Yunani juga ada yang disebut
mitologi Oedipus. Pokok isi dari mitologi itu adalah karena tidak tau sang
Watugunung, Sangkuriang, Oedipus memperistri ibunya sendiri, tetapi di sana-
sini ada perbedaan yang menunjukkan kepribadian bangsa dan sesuai dengan
tempatnya mitologi itu berkembang.
 
source: hindu-dharma 

Jumat, 04 Maret 2011

Sejarah Agama Hindu


Agama Hindu adalah agama yang mempunyai usia terpanjang merupakan agama yang pertama dikenal oleh manusia. Dalam uraian ini akan dijelaskan kapan dan dimana agama itu diwahyukan dan uraian singkat tentang proses perkembangannya. Agama Hindu adalah agama yang telah melahirkan kebudayaan yang sangat kompleks dibidang astronomi, ilmu pertanian, filsafat dan ilmu-ilmu lainnya. Karena luas dan terlalu mendetailnya jangkauan pemaparan dari agama Hindu, kadang-kadang terasa sulit untuk dipahami.
Banyak para ahli dibidang agama dan ilmu lainnya yang telah mendalami tentang agama Hindu sehingga muncul bermacam- macam penafsiran dan analisa terhadap agama Hindu. Sampai sekarang belum ada kesepakatan diantara para ahli untuk menetapkan kapan agama Hindu itu diwahyukan, demikian juga mengenai metode dan misi penyebarannya belum banyak dimengerti.
Penampilan agama Hindu yang memberikan kebebasan cukup tinggi dalam melaksanakan upacaranya mengakibatkan banyak para ahli yang menuliskan tentang agama ini tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ada dalam agama Hindu.
Sebagai Contoh: "Masih banyak para ahli menuliskan Agama Hindu adalah agama yang polytheistis dan segala macam lagi penilaian yang sangat tidak mengenakkan, serta merugikan agama Hindu".
Disamping itu di kalangan umat Hindu sendiripun masih banyak pemahaman-pemahaman yang kurang tepat atas ajaran agama yang dipahami dan diamalkan. Demikianlah tujuan penulisan ini adalah untuk membantu meluruskan pendapat-pendapat yang menyimpang serta pengertian yang belum jelas dari hal yang sebenarnya terhadap agama Hindu.
AGAMA HINDU DI INDIA
Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap  Dewa-dewa.
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.
Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.
Selanjutnya, pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta", menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.
Agama Hindu, dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara.
MASUKNYA AGAMA HINDU DI INDONESIA
Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.
Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya.
Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis", menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India.
Mookerjee (ahli - India tahun 1912).
Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.
Moens dan Bosch (ahli - Belanda)
Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia.
Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.
Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:
Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):
Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.
Prasasti Porong (Jawa Tengah)
Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.
AGAMA HINDU DI INDONESIA
Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara".
Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu"
Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.
Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.
Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.
Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari.
Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.
Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.
Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.
Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada  ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan  menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

source: parisada